Jakarta – Bursa saham Amerika Serikat menutup perdagangan akhir pekan pada Jumat (24/7/2026) dengan hasil yang beragam, diwarnai oleh aksi jual masif pada sektor semikonduktor.
Indeks Nasdaq tertekan cukup dalam karena investor mulai meragukan efektivitas belanja modal besar-besaran untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Sentimen negatif ini memicu koreksi pada saham-saham produsen chip yang selama ini menjadi motor penggerak pasar.
Indeks teknologi S&P 500 mencatatkan penurunan sebesar 0,88 persen akibat pelemahan di sektor tersebut.
CEO Andersen Capital Management, Peter Andersen, menyatakan bahwa pelaku pasar kini mulai mempertanyakan kapan investasi jumbo di sektor AI akan memberikan imbal hasil nyata.
“Investor mulai bertanya-tanya, bagaimana kita harus memahami semua pengeluaran ini, dan berapa lama lagi kita harus bersabar sebelum benar-benar melihat investasi tersebut menghasilkan keuntungan nyata?” ujarnya sebagaimana dikutip dari laman resmi Andersen Capital Management, Sabtu (25/7/2026).
Andersen menambahkan bahwa fenomena FOMO di kalangan investor kini bergeser menjadi kekhawatiran akan terjadinya kelebihan kapasitas infrastruktur AI.
“Rasa takut ketinggalan peluang kini mulai berubah menjadi kekhawatiran terhadap pembangunan kapasitas yang terlalu besar,” kata dia.
Kondisi ini diperparah oleh kinerja saham Intel yang anjlok 7,9 persen, mengikuti pelemahan indeks semikonduktor Philadelphia (SOX) sebesar 4,5 persen.
Meskipun Intel memproyeksikan laba di atas ekspektasi, rencana perusahaan untuk meningkatkan belanja dalam dua tahun ke depan justru direspons negatif oleh pasar.
Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average mampu menguat 235,60 poin atau 0,46 persen menjadi 51.947,25.
Indeks S&P 500 juga mencatat kenaikan tipis 0,05 persen ke level 7.411,98, sementara Nasdaq ditutup melemah 0,64 persen di angka 24.975,82.
Sepanjang pekan ini, ketiga indeks utama tersebut mencatatkan kinerja mingguan yang kurang memuaskan dengan tren penurunan yang berkelanjutan.
Di luar sektor teknologi, sektor properti dan material menunjukkan performa positif di tengah ketidakpastian pasar.
Digital Realty Trust memimpin kenaikan sektor properti sebesar 11 persen setelah menaikkan proyeksi dana operasional tahunan.
Sektor material juga menguat 1,44 persen, didorong oleh lonjakan harga saham International Paper dan Smurfit Westrock.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia mencatat penurunan sekitar 3 persen akibat aksi ambil untung oleh para investor.
Penurunan harga komoditas ini juga dipengaruhi oleh laporan mengenai potensi dimulainya kembali pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Namun, ketegangan geopolitik diprediksi tetap menjadi faktor dominan yang akan mendikte pergerakan pasar keuangan global dalam waktu dekat.
“Apa pun perkembangan berita terkait konflik saat ini akan menggerakkan harga minyak, dan harga minyak kemudian akan memengaruhi pasar keuangan,” tegas Andersen.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati kebijakan tarif baru sebesar 10 hingga 12,5 persen yang diberlakukan pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap produk dari 60 mitra dagang.
Data ekonomi AS menunjukkan adanya divergensi, di mana sektor jasa mengalami penguatan aktivitas, sementara sektor manufaktur justru melambat ke level terendah sejak Maret.






















