Rupiah Berpotensi Fluktuatif, Pasar Cermati Kebijakan The Fed dan BI

Rayhan Akhari

Rupiah Berpotensi Fluktuatif, Pasar Cermati Kebijakan The Fed dan BI

Jakarta – Nilai tukar rupiah pada perdagangan awal pekan ini, Senin (21/9/2026), diprediksi masih akan menghadapi tekanan volatilitas yang cukup tinggi.

Sentimen pasar saat ini didominasi oleh kombinasi faktor eksternal yang kompleks, mulai dari ketegangan geopolitik global hingga kebijakan moneter dari bank sentral Amerika Serikat.

Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (18/9/2026), rupiah di pasar spot menunjukkan pelemahan selama tujuh hari berturut-turut.

Mata uang Garuda tersebut tercatat turun sebesar Rp 5 atau setara 0,03% ke level Rp 17.758 per dolar AS.

Berbeda dengan pasar spot, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) justru mencatatkan apresiasi tipis sebesar Rp 8 atau 0,05% menjadi Rp 17.745 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa dinamika geopolitik menjadi faktor utama yang membayangi pasar keuangan saat ini.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah kini bergeser dari Selat Hormuz menuju kawasan Laut Merah dan Selat Al-Mandeb, yang memicu kekhawatiran pelaku pasar.

“Yang pertama adalah faktor geopolitik. Yang kedua adalah kebijakan politik di Amerika pasca menantikan pemilu sela di bulan November. Kemudian, kebijakan Bank Sentral Amerika,” ujar Ibrahim, dikutip dari pernyataan tertulisnya pada Minggu (20/9/2026).

Ibrahim menyoroti intensitas aktivitas diplomatik yang melibatkan China, di mana Menteri Luar Negeri Wang Yi mendesak Washington dan Teheran untuk menahan diri.

Selain itu, konsultasi intensif antara Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dengan pejabat China dan Pakistan turut menjadi perhatian bagi para investor aset berisiko.

Faktor ketidakpastian politik di Amerika Serikat menjelang pemilu sela pada November mendatang juga menjadi sorotan tajam.

Persaingan antara Partai Republik dan Partai Demokrat dinilai berpotensi menambah beban bagi stabilitas pasar keuangan global.

Terkait kebijakan moneter, pasar masih terus memantau langkah The Federal Reserve (The Fed) terkait suku bunga acuan.

Ibrahim mengungkapkan bahwa terdapat ekspektasi kuat di pasar mengenai potensi kenaikan suku bunga lanjutan hingga akhir tahun.

“Dari 18 anggota yang memberikan proyeksi, sebanyak 16 anggota menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin,” ungkap Ibrahim.

Proyeksi tersebut memperkuat antisipasi pasar terhadap kebijakan moneter ketat yang dapat memengaruhi arus modal global ke aset dalam denominasi dolar AS.

Di sisi domestik, pergerakan rupiah pada awal pekan ini turut dipengaruhi oleh antisipasi pasar terhadap Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan bahwa RDG BI yang dijadwalkan pada 22–23 September 2026 menjadi penentu arah kebijakan selanjutnya.

Pasar menantikan sinyal dari bank sentral terkait kondisi ekonomi terkini dan strategi menjaga stabilitas nilai tukar.

Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak konsolidatif di kisaran Rp 17.700 hingga Rp 17.800 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Sementara itu, Ibrahim memperkirakan rentang pergerakan rupiah yang serupa, yakni di kisaran Rp 17.750 hingga Rp 17.800 per dolar AS.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar