Jakarta – Kinerja produk unitlink berbasis saham mencatatkan tekanan berat sepanjang periode September 2026.
Data terbaru menunjukkan rata-rata imbal hasil atau return unitlink saham mengalami kontraksi sebesar 4,54 persen dalam satu bulan terakhir.
Kondisi pasar yang kurang kondusif membuat mayoritas produk mengalami penurunan nilai aset.
Namun, di tengah tren negatif tersebut, terdapat 10 produk unitlink saham yang mampu mencetak kinerja positif.
Produk Dynamic Money dari PT AXA Financial Indonesia memimpin daftar dengan perolehan return sebesar 10,11 persen.
Posisi kedua ditempati oleh Smartwealth Dollar Equity World Opportunities Funds US$ milik PT Asuransi Allianz Life Indonesia dengan capaian 5,46 persen.
Menyusul di urutan ketiga, produk Dynamic (IDR) dari PT AXA Financial Indonesia mencatatkan return sebesar 5,45 persen.
Aggressive Equity Rupiah (IDR) yang juga dikelola PT AXA Financial Indonesia berada di posisi keempat dengan imbal hasil 4,38 persen.
Peringkat kelima diisi oleh Panin MUL USD Aggressive Fund milik PT Panin Dai-ichi Life yang membukukan return 3,61 persen.
Sementara itu, produk PRUlink US Dollar Global Tech Equity Fund dan PRUlink US Dollar Global Tech Equity Income Fund dari PT Prudential Life Assurance berbagi posisi dengan perolehan masing-masing 3,06 persen.
Posisi kedelapan diisi Mandiri Golden Offshore USD milik PT AXA Mandiri Financial Services dengan imbal hasil 2,99 persen.
PFI Mega Life USD Global Equity Opportunity Fund milik PT PFI Mega Life Insurance menyusul di urutan kesembilan dengan return 2,09 persen.
Manulife Dana Ekuitas Teknologi Global Dolar dari PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia melengkapi daftar 10 besar dengan perolehan 1,73 persen.
Head of Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana menjelaskan bahwa pelemahan kinerja unitlink saham sangat dipengaruhi oleh anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
IHSG tercatat melemah sebesar 6,96 persen sepanjang September 2026.
“Pengaruhnya cukup signifikan,” ujar Wawan dikutip dari pernyataan resminya, Rabu (7/10/2026).
Wawan memaparkan bahwa hanya terdapat 24 produk unitlink saham yang mampu mencatat kinerja positif dari total 219 produk yang dipantau.
Mayoritas produk yang bertahan merupakan instrumen berbasis global atau offshore.
Data mencatat unitlink saham berbasis pasar domestik rata-rata turun hingga 5,75 persen.
Sebaliknya, unitlink saham berbasis global hanya mengalami penurunan sekitar 2,08 persen.
Kendati tertekan, rata-rata penurunan unitlink saham sebesar 4,54 persen masih tergolong lebih baik dibandingkan koreksi IHSG yang mencapai 6,96 persen.
Tren negatif ini tidak hanya terjadi pada unitlink saham.
Data menunjukkan unitlink berbasis campuran terkontraksi 2,29 persen dan unitlink pendapatan tetap turun 0,56 persen.
Satu-satunya instrumen yang mencatat kinerja positif adalah unitlink pasar uang dengan rata-rata return sebesar 0,39 persen pada September 2026.


















