Konflik AS-Venezuela: Harga Minyak Indonesia Ikut Bergoyang?

persen

Jakarta – Dunia dikejutkan dengan kabar penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, oleh Amerika Serikat. Donald Trump, melalui platform media sosialnya, mengklaim operasi penangkapan dilakukan dalam skala besar.

Trump menyebut Maduro dan istrinya telah diterbangkan keluar dari Venezuela. Konflik AS-Venezuela memicu kekhawatiran global, terutama terkait potensi dampaknya terhadap harga minyak dunia.

Venezuela sendiri dikenal sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Data OPEC 2024 menunjukkan Venezuela memiliki 303,221 miliar barel cadangan minyak, sekitar 17% dari total cadangan global.

Namun, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai konflik tersebut belum akan mendongkrak harga minyak secara signifikan dalam jangka pendek.

“Sampai hari ini harga minyak mentah masih rendah, yakni di 57,4 dollar AS per barrel atau terkoreksi 21 persen dalam satu tahun terakhir,” jelas Bhima, Senin (5/1/2026).

Bhima menjelaskan, saat ini dunia mengalami kelebihan pasokan minyak atau *supply glut*. Permintaan minyak juga masih lemah dari negara maju dan China.

Selain itu, OPEC masih mempertahankan produksi minyak meski harga rendah. Faktor-faktor ini membuat Bhima meyakini harga BBM di Indonesia belum akan naik dalam waktu dekat.

“Jadi, harga BBM belum akan naik dalam jangka pendek, kecuali pemerintah memang mau pangkas subsidi energi itu lain cerita,” ungkapnya.

Bhima menambahkan, komoditas lain yang berpotensi mengalami kenaikan harga adalah emas batangan. Sementara komoditas lain dinilai belum terpengaruh.

Rekomendasi