Denpasar – Bank Indonesia (BI) mewaspadai dampak musim hujan terhadap inflasi di Bali pada awal tahun 2026. Risiko gangguan produksi dan distribusi hortikultura menjadi perhatian utama.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, mengungkapkan curah hujan tinggi berpotensi memicu gagal panen dan meningkatkan risiko hama tanaman. Hal ini dikhawatirkan mengganggu pasokan pangan dan hortikultura.
“Kewaspadaan perlu ditingkatkan untuk menjaga stabilitas harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) serta libur Idulfitri dan Nyepi di kuartal I/2026,” tegas Erwin dalam keterangan resminya, Selasa (6/1/2025). Sinergi antar Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) menjadi kunci utama.
BI menekankan pentingnya strategi 4K: Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi yang Efektif. Strategi ini akan diperkuat melalui tiga fokus utama: stabilitas pasokan, efisiensi distribusi, dan penguatan regulasi.
GNPIP (Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan) akan terus didorong sebagai upaya menjaga stabilitas harga melalui penguatan regulasi, stabilitas pasokan, dan efisiensi distribusi.
Intensifikasi operasi pasar, pengawasan penyaluran SPHP, penguatan produksi lokal, dan kerja sama antar daerah menjadi langkah penting lainnya. BI juga mendorong pembangunan ekosistem ketahanan pangan inklusif dengan melibatkan BUMDes, Perumda pangan, dan koperasi.
Sinergi antara pelaku hulu dan hilir, termasuk petani, penggilingan, Perumda pangan, KDKMP, SPPG, hingga sektor horeka (hotel, restoran, dan kafe), diperkuat melalui regulasi pemanfaatan produk pangan lokal.
Dengan langkah-langkah strategis ini, BI Bali optimis inflasi tahun 2026 dapat terjaga dalam target nasional 2,5%±1%.
BPS Bali mencatat inflasi bulanan Desember 2025 sebesar 0,70% (MtM), lebih tinggi dari November (0,40% MtM). Inflasi tahunan meningkat menjadi 2,91% (YoY) dari 2,51% (YoY) di November.
Inflasi Bali masih di bawah angka nasional (2,92% YoY) dan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Bali tahun 2025 yang diperkirakan mencapai 5,0-5,8% (YoY).
Denpasar mencatat inflasi tertinggi (3,45% YoY), diikuti Tabanan (2,70% YoY) dan Singaraja (2,51% YoY). Badung mencatat inflasi 2,37% (YoY). Kenaikan harga cabai rawit, bawang merah, dan daging ayam ras menjadi penyumbang utama inflasi.





















