Jakarta – PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) menetapkan strategi penguatan pada segmen perawatan berat atau heavy maintenance serta sektor pertahanan guna menjaga stabilitas pendapatan perusahaan. Langkah ini diambil sebagai respons atas volatilitas harga avtur yang dipicu oleh ketegangan geopolitik global, yang secara langsung berdampak pada efisiensi operasional maskapai penerbangan sebagai pelanggan utama perseroan.
Direktur Utama GMFI, Andi Fahrurrozi, menjelaskan bahwa fluktuasi harga avtur memang memengaruhi frekuensi penerbangan yang berdampak pada segmen line maintenance. Namun, ia menegaskan bahwa layanan perawatan berat seperti engine shop, component shop, dan airframe maintenance relatif lebih tahan terhadap guncangan tersebut. Hal ini dikarenakan kontrak perawatan berat telah direncanakan oleh pelanggan sejak satu hingga dua tahun sebelumnya dengan jadwal yang sudah terkunci.
Jika pelanggan mengurangi jadwal penerbangan, GMFI memiliki fleksibilitas untuk mengalihkan slot perawatan kepada klien lain yang membutuhkan. Fokus pada sektor pertahanan dan pemerintah juga menjadi pilar strategis, mengingat kebutuhan perawatan pesawat di segmen tersebut cenderung lebih stabil dibandingkan penerbangan komersial di tengah ketidakpastian kondisi dunia.
Untuk memperkuat fundamental bisnis jangka panjang, GMFI telah menyusun lima inisiatif strategis. Pertama, optimalisasi fasilitas di Pondok Cabe yang mulai beroperasi pada Juni 2026 untuk menyasar pasar pesawat narrow body dan turboprop. Kedua, ekspansi strategis ke wilayah Timur Tengah melalui kemitraan lokal yang diproyeksikan memberikan kontribusi pendapatan signifikan dalam tiga tahun ke depan.
Ketiga, pengembangan Aerospace Park di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati yang diproyeksikan menjadi ekosistem MRO dan pertahanan terbesar di Indonesia. Keempat, diversifikasi ke sektor manufaktur kedirgantaraan melalui proyek aerostructure. Terakhir, perseroan melakukan ekspansi hanggar di Cengkareng untuk meningkatkan kapasitas dalam menangkap permintaan pasar regional.
Direktur Keuangan GMFI, Tri Hartono, menambahkan bahwa perusahaan tetap optimistis mencapai target pendapatan tahun ini. Perseroan melihat peluang besar dari fenomena MRO supercycle global, yang didorong oleh tingginya utilisasi armada pesawat di berbagai negara dunia saat ini.
Di sisi lain, GMFI tengah memproses pemenuhan kewajiban porsi saham publik atau free float sebesar 15 persen, di mana saat ini porsi tersebut baru mencapai 6,52 persen dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 6,24 triliun. Andi menyebutkan bahwa perusahaan sedang mengkaji dua opsi utama, yakni pelepasan saham oleh pemegang saham eksisting atau melalui mekanisme penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue).
Manajemen GMFI saat ini terus melakukan koordinasi intensif dengan pemegang saham utama, termasuk PT Garuda Indonesia Tbk dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Perseroan berkomitmen untuk menyelesaikan penyesuaian porsi saham ini sebelum tenggat waktu yang ditentukan regulator pada Maret 2027 mendatang dengan memilih langkah yang paling tepat bagi nilai perusahaan dan pemegang saham.























