Indeks LQ45 Menguat, Investor Cermati Peluang Saham Potensial Berikut

persen

Jakarta – Indeks LQ45 melanjutkan tren penguatan dengan mencatatkan kenaikan sebesar 3,54% ke level 589,47 pada perdagangan Rabu (10/6/2026). Reli positif ini memperpanjang momentum kenaikan setelah pada sesi sebelumnya indeks yang berisi saham-saham unggulan atau blue chip tersebut melonjak signifikan sebesar 8,01%.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menuturkan bahwa penguatan indeks saat ini mengindikasikan pergerakan yang melampaui sekadar technical rebound. Menurutnya, lonjakan tajam yang terjadi dipicu oleh tiga faktor utama: keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas rupiah, imbauan DPR terkait aksi beli kembali (buyback) oleh institusi, serta valuasi saham LQ45 yang telah menyentuh level terendah dalam lima tahun terakhir.

Meski optimis, Abida mengingatkan bahwa keberlanjutan tren penguatan ini masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut, terutama dari meredanya aksi jual bersih atau net sell investor asing secara konsisten serta terjaganya stabilitas nilai tukar rupiah. Di tengah kondisi pasar yang dinamis, ia menyarankan investor jangka panjang untuk mulai melakukan akumulasi secara bertahap dalam tiga hingga empat tahap selama dua hingga tiga bulan ke depan. Strategi ini dinilai lebih bijak dibandingkan masuk ke pasar secara sekaligus.

Secara teknis, Abida menyarankan alokasi portofolio sebesar 60% hingga 70% pada saham defensif dengan imbal hasil (yield) tinggi, serta 30% hingga 40% pada saham-saham sektor pertumbuhan yang saat ini berada dalam kondisi terdiskon. Langkah ini diharapkan dapat memaksimalkan potensi keuntungan saat pasar telah memasuki fase pemulihan penuh.

Pandangan senada disampaikan oleh Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih. Ia mencatat bahwa lonjakan indeks LQ45 sebesar 11,5% menegaskan dominasi saham blue chip dalam fase pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari titik terendah di level 5.342. Ratih menyoroti valuasi saham bank besar yang saat ini tergolong sangat murah, bahkan berada jauh di bawah rata-rata Price to Book Value (PBV) dalam 15 tahun terakhir.

Sebagai gambaran, saham BMRI sempat diperdagangkan pada level 1,2 kali PBV, yang merupakan level terendah dalam dua dekade terakhir. Dengan proyeksi laba bersih dan rasio pembayaran dividen tahun buku 2025, saham tersebut berpotensi memberikan imbal hasil dividen hingga 13%. Ratih juga menilai kebijakan kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebesar 25 basis poin menjadi 5,5% sebagai langkah antisipatif yang mampu menurunkan premi risiko jangka pendek dan meredam tekanan terhadap rupiah.

Kendati demikian, Ratih memberikan catatan kritis mengenai adanya anomali pasar. Penguatan tajam selama dua hari terakhir terjadi di tengah aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp 5,52 triliun pada periode 8 hingga 9 Juni 2026. Data KSEI menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga Mei 2026, porsi kepemilikan asing di pasar modal Indonesia telah menyusut menjadi 41,17%. Tanpa adanya arus dana masuk dari investor asing, ia menegaskan bahwa penguatan IHSG saat ini masih memiliki risiko untuk kembali terkoreksi.

Untuk mengoptimalkan peluang, investor disarankan memanfaatkan mispricing pada saham-saham blue chip yang masih diperdagangkan di bawah nilai wajarnya. Beberapa saham yang direkomendasikan untuk akumulasi beli meliputi BMRI, EXCL, dan ADRO. Sementara itu, Abida turut merekomendasikan pembelian pada saham BBNI, TLKM, dan ISAT dengan mempertimbangkan valuasi sektor telekomunikasi yang masih berada di bawah rata-rata historisnya.

Rekomendasi