Jakarta – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti pentingnya ketersediaan stok dan kelancaran distribusi untuk menjaga stabilitas harga pangan pasca-Lebaran 2026.
Menurut Indef, kedua faktor ini menjadi kunci utama dalam mengendalikan fluktuasi harga.
Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, menekankan peran Bulog dalam mengoptimalkan penyerapan gabah petani saat panen raya.
Selain itu, pengawasan kualitas gudang juga menjadi perhatian penting.
“Bulog mengoptimalkan penyerapan gabah petani saat panen raya dan memperkuat pengawasan kualitas gudang. Tidak heran harga beras normal,” ujar Esther.
Esther menjelaskan, stok beras yang dikelola Perum Bulog mencapai 3,7 hingga 3,74 juta ton pada awal Maret 2026.
Dengan adanya tambahan panen, stok beras diproyeksikan meningkat menjadi 4,5 hingga 5 juta ton pada akhir Maret.
Cadangan beras yang kuat ini dinilai menjadi faktor penentu stabilitas harga beras dibandingkan komoditas pangan lainnya.
Selain ketersediaan stok, kelancaran distribusi juga menjadi perhatian utama.
“Pemerintah juga perlu menjaga kelancaran distribusi barang dan logistik agar harga tetap stabil,” tegas Esther.
Gangguan distribusi, menurutnya, berpotensi memicu kenaikan harga meskipun pasokan mencukupi.
Berdasarkan data Badan Pangan Nasional per 25 Maret 2026, harga beras SPHP tercatat sekitar Rp12.000 per kilogram.
Sementara itu, harga beras premium mencapai Rp14.400, dan beras medium Rp12.200.
Untuk komoditas lain, harga bawang merah dan bawang putih berada di kisaran Rp35.000 per kilogram.






















