Washington – Jerman mendesak Israel dan Lebanon segera melanjutkan negosiasi langsung untuk mencapai perdamaian jangka panjang setelah gencatan senjata 10 hari yang dimediasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul pada Jumat menyambut kesepakatan itu dan menyebutnya sebagai “jeda penting” bagi warga di kedua sisi perbatasan yang terdampak konflik.
Ia menegaskan, perdamaian berkelanjutan dibutuhkan untuk menjamin keamanan di sepanjang Garis Biru, batas sepanjang 120 kilometer yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2000 untuk memisahkan wilayah Israel dan Lebanon.
Menurut Wadephul, stabilitas hanya bisa terwujud jika Hizbullah di Lebanon dilucuti seluruh persenjataannya.
“Jerman berkontribusi pada stabilitas di Lebanon dengan mendukung tentara dan pasukan keamanan Lebanon. Sebagai donor kemanusiaan terbesar bagi rakyat Lebanon, kami mendukung mereka yang menderita akibat perang, terutama lebih dari satu juta pengungsi di dalam negeri,” kata Wadephul.
Di sisi lain, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengingatkan bahwa gencatan senjata itu masih berisiko terganggu oleh operasi militer yang terus berlangsung.
“Saya sepenuhnya mendukung gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel yang diumumkan kemarin oleh Presiden Donald Trump. Saya juga menyatakan keprihatinan bahwa gencatan senjata tersebut mungkin telah dirusak oleh operasi militer yang sedang berlangsung,” tulis Macron.
Macron menegaskan, “Hizbullah harus meletakkan senjatanya. Israel harus menghormati kedaulatan Lebanon dan menghentikan perang.”
Ia juga menyerukan semua pihak yang terlibat konflik untuk melindungi keselamatan warga sipil di kedua wilayah.
Sebelumnya, Trump mengumumkan bahwa Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menyepakati gencatan senjata selama 10 hari sebagai langkah awal menuju perdamaian.





















