Jakarta – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memperingatkan adanya ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal akibat lonjakan harga bahan baku plastik yang terus berlanjut. Kondisi ini dipicu oleh ketegangan geopolitik global yang mengganggu rantai pasok nafta, cairan olahan minyak bumi yang menjadi komponen utama industri plastik.
Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani, mengungkapkan bahwa kenaikan harga bahan baku saat ini telah melampaui fluktuasi normal. Kondisi tersebut memberikan tekanan berat bagi sektor padat karya, seperti industri makanan dan minuman, FMCG, farmasi, logistik, hingga retail.
“Jika tekanan biaya ini berlanjut, risiko terhadap tenaga kerja menjadi nyata. Kami khawatir ini berujung pada pengurangan karyawan, terutama di sektor padat karya yang sangat bergantung pada kemasan plastik,” ujar Shinta, Sabtu (18/4/2026).
Sebagai langkah mitigasi awal, dunia usaha saat ini tengah melakukan efisiensi operasional. Strategi yang diambil mencakup penyesuaian jam kerja, pengurangan waktu lembur, hingga penundaan rencana ekspansi maupun rekrutmen karyawan baru. Namun, jika biaya produksi terus melonjak tanpa dukungan kebijakan yang memadai, kemampuan pelaku usaha untuk mempertahankan operasional akan semakin terbatas.
Data menunjukkan dampak yang cukup signifikan terhadap industri. Harga nafta diketahui melonjak hingga 45 persen, yang kemudian mendorong kenaikan harga resin PET mencapai 60 persen. Akibatnya, pabrik pemasok kemasan terpaksa memangkas kapasitas produksi sebesar 20 hingga 30 persen, dengan kenaikan harga produk kemasan yang bervariasi antara 100 persen hingga 150 persen.
Di tengah situasi tersebut, pelaku usaha dihadapkan pada dilema sulit. Mereka harus menjaga harga produk tetap terjangkau guna menjaga daya beli masyarakat, namun di sisi lain margin keuntungan semakin tergerus, terutama bagi pelaku UMKM dan sektor dengan margin tipis.
Menanggapi krisis pasokan tersebut, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan bahwa pemerintah kini tengah berupaya mencari negara alternatif pemasok nafta. Upaya ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada kawasan Timur Tengah yang saat ini mengalami kendala pengapalan dan ketatnya kompetisi global.
“Sekarang kami sudah mendapatkan alternatif pemasok dari Afrika, India, dan Amerika,” jelas Budi. Pemerintah berharap langkah diversifikasi sumber bahan baku ini dapat menstabilkan pasokan serta harga biji plastik di dalam negeri demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.



















