Survei BI Ungkap Penurunan Kegiatan Usaha di Bali 17,55 Persen

persen

Denpasar – Kinerja dunia usaha di Bali mengalami perlambatan signifikan pada kuartal I/2026. Bank Indonesia mencatat Nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha di Pulau Dewata berada di angka 17,91%, turun drastis dibandingkan capaian triwulan sebelumnya yang menyentuh 35,46%.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menjelaskan bahwa penurunan ini dipicu oleh melemahnya sektor-sektor utama penggerak ekonomi daerah. Lapangan usaha penyediaan akomodasi makan dan minum merosot dari -0,67% menjadi -8,32%, sementara sektor konstruksi terkoreksi dari 8,88% menjadi -1,78%.

Faktor musiman pasca libur akhir tahun atau periode low season menjadi penyebab utama melambatnya kunjungan wisatawan. Data dari InJourney Airports Bandara I Gusti Ngurah Rai menunjukkan adanya penurunan jumlah kedatangan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, sebesar 10,85% (qtq), yakni dari 2,94 juta orang menjadi 2,62 juta orang.

Selain faktor musiman, kondisi geopolitik global turut menekan dunia usaha. Konflik di Timur Tengah menyebabkan ketidakpastian ekonomi yang berdampak pada perubahan jadwal penerbangan internasional. Ketegangan di wilayah tersebut juga memicu terganggunya pasokan bijih plastik ke Bali.

Dampaknya, harga bahan baku plastik di sejumlah pasar tradisional di Denpasar, Buleleng, dan Badung melonjak tajam antara 30% hingga 60% (mtm) pada April 2026. Kondisi ini membuat para pelaku usaha berada dalam posisi sulit karena enggan menaikkan harga jual produk di tengah kondisi daya beli masyarakat yang sedang melambat.

Meski demikian, sektor jasa keuangan memberikan sinyal positif dengan peningkatan SBT sebesar 3,22% pada kuartal I/2026, naik dari 0,27% pada kuartal sebelumnya. Erwin menyebut, pertumbuhan ini didorong oleh aktivitas ekonomi selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), seperti perayaan Nyepi dan Idulfitri.

Rekomendasi