Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berharap pasar modal Indonesia tetap diklasifikasikan sebagai negara berkembang atau emerging market setelah pertemuan dengan penyedia indeks saham global Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan pembahasan dengan MSCI berlangsung positif dan konstruktif. Dalam pertemuan itu, MSCI disebut mengapresiasi langkah reformasi pasar modal Indonesia yang dijalankan OJK bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
“Mereka menyampaikan pengakuan atas berbagai progres dan capaian agenda reformasi integritas di pasar modal kita,” ujar Hasan di Gedung BEI, Jakarta, Senin (27/4).
Hasan menjelaskan, sejumlah kebijakan yang mendapat sambutan positif antara lain peningkatan transparansi kepemilikan saham di atas 1 persen serta publikasi daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Daftar tersebut dikenal sebagai High Shareholder Concentration.
“Per awal April ada sembilan saham yang masuk di dalamnya. 1-2 saham juga merupakan saham yang masuk dalam kelompok saham dalam Indeks MSCI,” kata Hasan.
OJK juga memperluas klasifikasi tipe investor dari sembilan menjadi 39 kategori untuk mendukung keterbukaan data pasar. Selain itu, lembaga ini telah menerbitkan aturan untuk menaikkan minimum free float secara bertahap dari 7,5 persen menjadi 15 persen.
Hasan menyebut MSCI akan kembali melakukan evaluasi indeks pada 12 Mei. Menurut dia, hasil dari pemanfaatan data reformasi itu diharapkan mulai tercermin dalam proses rebalancing.
Ia menambahkan, penilaian klasifikasi pasar juga akan dilakukan lagi pada Juni. Dalam evaluasi itu, OJK berharap Indonesia tetap berada di kategori emerging market.
“Di situlah kita harapkan nanti kita tetap diakui dan menjadi bagian dari indeks yang masuk dalam kategori emerging market sesuai kondisi kita saat ini,” ucap Hasan.
Ke depan, OJK juga akan berdialog dengan investor global dengan dukungan World Bank dan IFC. Hasan mengatakan akan dibentuk investor advisory group untuk forum tersebut.
Ia berharap pertemuan virtual itu bisa menjadi ruang untuk mendengar respons atas progres reformasi pasar modal Indonesia yang telah dijalankan.
“Kita tidak akan ragu, tidak akan pernah surut, akan terus mendorong peningkatan integritas di pasar modal kita, sehingga level akseptansi dan kepercayaan investor, tidak hanya investor domestik, tapi juga investor global, tentu juga berbekal perbandingan dan standar best practice apa yang diterapkan juga di bursa-bursa efek terkemuka lainnya,” ujar Hasan.
























