Jakarta – PT Kimia Farma (Persero) Tbk. (KAEF) membukukan pembalikan kinerja pada kuartal I/2026 setelah tiga tahun terakhir berada di bawah tekanan. Emiten farmasi BUMN itu mencatat laba bersih tahun berjalan sebesar Rp123,6 miliar, berbalik dari rugi bersih Rp126,4 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja tersebut membuat laba bersih KAEF melonjak 197,79% secara tahunan atau year-on-year (YoY). Perseroan menyebut restrukturisasi keuangan yang dijalankan selama dua tahun terakhir menjadi faktor utama pemulihan kinerja.
Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam, mengatakan capaian itu menunjukkan langkah transformasi perusahaan mulai memberikan hasil.
“Capaian di kuartal I/2026 ini bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata langkah-langkah transformatif yang kami ambil kini mulai membuahkan hasil,” ujar Djagad dalam keterangan resmi, dikutip Senin (4/5/2026).
Secara operasional, laba kotor KAEF naik 11,06% menjadi Rp824,8 miliar. Peningkatan ini ditopang transformasi rantai pasok yang berhasil menekan beban pokok penjualan secara signifikan.
EBITDA perseroan juga tumbuh 61,29% menjadi Rp153,8 miliar. Menurut Djagad, penataan sumber daya manusia dan penyederhanaan struktur organisasi turut membantu efisiensi beban usaha.
Pada triwulan pertama tahun ini, KAEF juga memperoleh dukungan pendanaan strategis dari Danantara melalui Bio Farma. Dukungan tersebut membantu menjaga stabilitas likuiditas sekaligus mempercepat restrukturisasi utang agar beban bunga lebih terkendali.
Ke depan, KAEF menyiapkan enam pilar strategi untuk memperkuat fundamental bisnis, termasuk digitalisasi proses usaha dan penguatan tata kelola perusahaan atau Good Corporate Governance.
Perseroan kini memusatkan perhatian pada pengembangan produk dengan margin lebih tinggi, namun tetap mendukung program obat pemerintah untuk menjaga akses layanan kesehatan masyarakat.
“Hasil ini menjadi fondasi kokoh bagi kami untuk mencapai target full-year yang optimistis,” kata Djagad.
Ringkasan kinerja keuangan KAEF pada kuartal I/2026 menunjukkan laba bersih Rp123,6 miliar, laba kotor Rp824,8 miliar, dan EBITDA Rp153,8 miliar. Strategi utama yang dijalankan adalah restrukturisasi utang dengan dukungan Danantara, sementara status operasional perseroan tercatat positif setelah mengakhiri tren negatif.






















