Sultan Yogyakarta Sederhanakan Prosesi Garebeg Besar Demi Efisiensi Ritual

persen

Yogyakarta – Keraton Yogyakarta memutuskan untuk menyederhanakan prosesi upacara adat Garebeg Besar yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha tahun ini. Langkah ini diambil sebagai bentuk efisiensi anggaran sekaligus upaya menjaga kondisi psikologis masyarakat di tengah situasi ekonomi yang sedang berlangsung.

Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan wujud keselarasan pemerintah daerah dengan kebijakan penghematan yang diterapkan pemerintah pusat. Menurut Sultan, tidak logis jika pemerintah melakukan efisiensi besar-besaran, namun instansi di bawahnya tetap menggelar acara yang menonjolkan kemewahan.

Penyesuaian format ini berdampak langsung pada hilangnya beberapa agenda utama yang biasanya dinanti masyarakat. Prosesi arak-arakan gunungan yang menjadi daya tarik utama, hingga tradisi rayahan atau perebutan gunungan, dipastikan ditiadakan. Meski demikian, keterlibatan abdi dalem dalam mengawal prosesi Sekaten dimungkinkan tetap berjalan, namun tanpa iring-iringan prajurit.

Penanggung jawab prosesi, Kanjeng Raden Tumenggung Kusumanegara, menyebutkan bahwa aturan ini merupakan perintah langsung dari Sri Sultan. Sejumlah rangkaian kegiatan pendukung, seperti Gladhi Resik Prajurit dan ritual Numplak Wajik, resmi ditiadakan. Sebagai gantinya, esensi sedekah raja tetap disalurkan dalam bentuk pembagian uba rampe atau sesaji yang diberikan secara terbatas untuk kalangan internal abdi dalem.

Kusumanegara membandingkan format penyelenggaraan tahun ini dengan kondisi saat pandemi Covid-19. Seluruh elemen ritual yang bersifat massal dipangkas, sehingga kegiatan berlangsung lebih ringkas dan tertutup.

Wakil Penghageng II Kawedanan Sri Wandawa Karaton Yogyakarta, KRT Sindurejo, menekankan bahwa modifikasi dalam tradisi Garebeg merupakan hal yang lumrah dalam sejarah Mataram Islam. Menurutnya, ritual adat bersifat dinamis dan harus selalu menyesuaikan dengan situasi zaman.

Hingga kini, pihak Keraton belum dapat memastikan sampai kapan format penyederhanaan ini akan berlaku. Sultan menyatakan akan terus memantau perkembangan ekonomi nasional sebelum memutuskan apakah prosesi lengkap dengan iring-iringan gunungan akan kembali digelar di masa mendatang.

Sebagai informasi, Garebeg merupakan agenda rutin tahunan Keraton Yogyakarta yang terdiri dari tiga rangkaian utama, yakni Garebeg Syawal, Garebeg Besar, dan Garebeg Mulud. Ketiganya merupakan bentuk apresiasi budaya yang sarat akan makna bagi masyarakat Yogyakarta.

Rekomendasi