Jakarta – Industri fintech peer-to-peer (P2P) lending diprediksi akan menerima lonjakan permintaan di tengah kebijakan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) ke level 5,25%. Kondisi ini memicu masyarakat untuk mencari sumber pendanaan alternatif karena biaya pinjaman di sektor perbankan konvensional yang diperkirakan ikut merangkak naik.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menyebutkan bahwa fintech lending menjadi opsi yang relevan di tengah tekanan ekonomi rumah tangga saat ini. Namun, ia mengingatkan bahwa peningkatan permintaan tersebut membawa tantangan ganda, yakni potensi peningkatan kualitas kredit atau justru risiko gagal bayar yang lebih tinggi.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, penyelenggara fintech wajib memprioritaskan kualitas pembiayaan. Langkah krusial yang harus dilakukan meliputi penguatan verifikasi calon peminjam, peningkatan akurasi sistem credit scoring berbasis teknologi, serta penyaringan yang lebih ketat melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).
Pelaku industri kini mulai merespons risiko tersebut dengan strategi pengelolaan yang lebih terukur. PT Amartha Mikro Fintek (Amartha), misalnya, mengombinasikan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dengan pendampingan langsung di lapangan untuk memastikan kualitas portofolio tetap terjaga.
VP Public Relations Amartha, Harumi Supit, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas pelaku usaha mikro. Hingga saat ini, Amartha telah menyalurkan pembiayaan produktif secara kumulatif sebesar Rp 46 triliun kepada sekitar 4 juta UMKM di seluruh Indonesia.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, outstanding pembiayaan fintech P2P lending per Maret 2026 mencapai Rp 101,03 triliun atau tumbuh 26,25% secara tahunan (year on year). Tingginya angka ini membuktikan besarnya ketergantungan masyarakat terhadap layanan pinjaman digital.
Meski demikian, OJK mencatat tingkat risiko kredit macet atau TWP90 berada di angka 4,52% per Maret 2026. Angka tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan Maret 2025 yang tercatat sebesar 2,77%, meski secara bulanan ada perbaikan tipis dibandingkan Februari 2026 yang berada di level 4,54%.



















