Nilai Ekspor Minyak Kelapa Melonjak Meski Volume Pengiriman Turun

persen

Jakarta – Nilai ekspor minyak kelapa Indonesia mencatatkan kinerja impresif sepanjang tahun 2025 meskipun dihadapkan pada penurunan volume pengiriman. Berdasarkan laporan Indonesia Eximbank Institute, kenaikan harga komoditas di pasar global berhasil mendongkrak nilai ekspor hingga lebih dari 43 persen, meski volume pengiriman secara kumulatif terkoreksi sekitar 18 persen.

Kepala Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani, menjelaskan bahwa lonjakan nilai ekspor dipicu oleh terbatasnya pasokan bahan baku akibat dampak fenomena El Niño. Kondisi cuaca ekstrem tersebut memaksa sejumlah pabrik menurunkan kapasitas produksi, sehingga memicu tekanan harga di pasar internasional.

Indonesia saat ini mengukuhkan posisi sebagai eksportir minyak kelapa terbesar kedua di dunia dengan penguasaan pangsa pasar global sebesar 22 persen, baik untuk jenis minyak kelapa mentah maupun yang telah dimurnikan. Posisi ini berada di bawah Filipina yang memegang porsi 49 persen, namun tetap unggul di atas Belanda yang berada di peringkat ketiga dengan pangsa 10 persen.

Daya saing industri minyak kelapa nasional dinilai sangat resilien berkat diversifikasi pasar yang luas. Produk Indonesia saat ini telah menembus lebih dari 90 negara tujuan, dengan pasar utama meliputi Belanda, Cina, Filipina, Malaysia, dan Amerika Serikat. Strategi ini mengurangi ketergantungan pada satu negara tertentu sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia.

Ke depan, Indonesia Eximbank Institute memproyeksikan nilai ekspor minyak kelapa akan tumbuh moderat sebesar 9 persen pada 2026. Pertumbuhan ini diperkirakan akan menyesuaikan dengan pemulihan produksi dari negara kompetitor serta stabilisasi harga kelapa kembali ke level normal.

Namun, industri ini masih memiliki tantangan besar dari sisi ketahanan pasokan bahan baku. Masalah penuaan pohon, rendahnya produktivitas pekebun kecil, hingga tren ekspor kelapa bulat menjadi faktor penghambat yang perlu dimitigasi.

Pemerintah terus berupaya menjaga keberlanjutan sektor ini melalui program peremajaan kebun atau replanting. Setelah merealisasikan peremajaan seluas 44,9 ribu hektar pada 2024, pemerintah menargetkan perluasan program tersebut hingga ratusan ribu hektar pada periode 2026–2027.

Langkah strategis lainnya adalah penguatan hilirisasi industri. Fokus pada pengembangan produk turunan minyak kelapa bernilai tambah tinggi diyakini mampu meningkatkan daya saing, mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku domestik, dan memenuhi permintaan pasar global yang kini semakin melirik produk berbasis keberlanjutan, khususnya di kawasan Uni Eropa.

Rekomendasi