Jakarta – Nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan berat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjelang paruh kedua tahun 2026. Meski Bank Indonesia (BI) telah menempuh berbagai langkah stabilisasi, pelemahan mata uang Garuda diprediksi masih akan berlanjut akibat kombinasi faktor eksternal dan domestik yang menantang.
Data Bloomberg mencatat rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,20% ke level Rp 17.881 per dolar AS pada Jumat (29/5/2026). Dalam sepekan terakhir, mata uang ini terkoreksi 0,91% dari posisi Rp 17.717. Secara year to date (ytd), rupiah telah terdepresiasi sebesar 6,91% dari level Rp 16.725 di awal tahun.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga acuan BI belum mampu membalikkan tren pelemahan secara permanen. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah berasal dari berbagai jalur, seperti tingginya impor energi, arus keluar modal, hingga kebutuhan dolar musiman.
Josua menekankan bahwa stabilitas rupiah di semester II-2026 bergantung pada tiga syarat utama: meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah untuk menekan harga minyak, efektivitas kebijakan moneter BI dalam menjaga daya tarik aset, serta penguatan disiplin fiskal dan implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) SDA.
Jika ketiga syarat tersebut tidak terpenuhi, ia memperingatkan bahwa risiko depresiasi rupiah menuju level Rp 18.000 tetap terbuka lebar.
Di sisi lain, Ekonom dan Guru Besar Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menyoroti lima faktor penentu, yakni arah suku bunga global, kredibilitas kebijakan BI, kinerja sektor eksternal, persepsi risiko pasar, dan kualitas kebijakan fiskal. Syafruddin menekankan bahwa belanja pemerintah harus mampu mendorong produktivitas agar fondasi ekonomi Indonesia tetap kokoh.
Proyeksi pergerakan rupiah pada semester kedua tahun ini masih bervariasi. Josua memperkirakan nilai tukar akan bergerak di rentang Rp 17.300 hingga Rp 17.900 per dolar AS. Sementara itu, Syafruddin memberikan estimasi yang lebih konservatif dengan kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.400 per dolar AS.
Pandangan tersebut sejalan dengan pasar forward yang menunjukkan tren pelemahan rupiah dalam jangka menengah. Pasar memproyeksikan kurs USD/IDR dalam enam bulan ke depan berada di kisaran Rp 18.100 hingga Rp 18.125, dan diprediksi menyentuh level Rp 18.300 pada tenor satu tahun.



















