Jakarta – Kinerja instrumen investasi unitlink berbasis saham dibayangi prospek suram sepanjang tahun 2026. Volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang berada di level 5,25% menjadi beban utama yang menekan imbal hasil produk ini.
Head of Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, memproyeksikan unitlink saham berisiko mencatatkan imbal hasil negatif hingga akhir tahun ini. Kondisi tersebut bisa berlanjut jika tidak ada katalis atau sentimen positif yang kuat pada semester II-2026.
Menurut Wawan, pemulihan kinerja unitlink saham sangat bergantung pada stabilitas eksternal dan domestik. Beberapa skenario yang dinilai mampu memperbaiki keadaan meliputi meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kebijakan penurunan suku bunga acuan, serta penguatan nilai tukar Rupiah. Tanpa faktor-faktor tersebut, sulit bagi unitlink saham untuk mencatatkan kinerja positif.
Data Infovesta mencatat, unitlink saham mengalami kontraksi terdalam secara year to date hingga April 2026, yakni sebesar 4,75%. Selain itu, unitlink berbasis campuran juga tertekan dengan kontraksi 3,62%, sementara unitlink pendapatan tetap terkontraksi 0,97%.
Sebaliknya, unitlink pasar uang justru menjadi satu-satunya instrumen yang mampu mencatatkan kinerja positif dengan rata-rata return 1,04% per April 2026. Wawan menjelaskan, instrumen pasar uang menjadi pihak yang paling diuntungkan dari tren kenaikan suku bunga acuan saat ini.
Di sisi lain, unitlink pendapatan tetap dinilai memiliki potensi dalam jangka menengah bagi investor yang masuk pada periode ini. Hal tersebut didorong oleh kenaikan imbal hasil atau yield obligasi yang dianggap menarik di tengah kondisi pasar saat ini.




















