Chatib Basri: Penurunan Kepercayaan Fiskal Picu Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

persen

Jakarta – Ekonom senior Chatib Basri menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini tidak dapat diatribusikan secara tunggal pada eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Berdasarkan analisis data, faktor utama yang memicu depresiasi mata uang domestik adalah penurunan kepercayaan pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Mantan Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini menekankan bahwa risiko fiskal memiliki pengaruh yang jauh lebih signifikan dibandingkan dampak perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Menurut Chatib, narasi mengenai fundamental ekonomi yang solid, seperti pertumbuhan mencapai 5,6 persen dan inflasi yang terkendali, tidak cukup untuk menjelaskan fenomena pelemahan rupiah yang berkelanjutan.

Dalam forum Grab Business Forum 2026, ia memaparkan bukti empiris menggunakan indikator Credit Default Swap (CDS) sebagai proksi utama untuk mengukur risiko fiskal suatu negara. Instrumen CDS sering menjadi acuan investor internasional untuk menilai kemampuan fiskal dan risiko gagal bayar sebuah negara. Hasil analisis menunjukkan bahwa sekitar 23 persen dari pelemahan rupiah berkorelasi langsung dengan kenaikan CDS Indonesia.

Chatib menegaskan bahwa temuan ini mengindikasikan adanya masalah mendasar pada tingkat kepercayaan investor terhadap pengelolaan anggaran negara. Jika pemerintah mampu menerapkan kebijakan fiskal yang lebih kredibel dan terukur, tekanan terhadap nilai tukar rupiah diyakini memiliki peluang besar untuk mereda.

Lebih lanjut, Chatib membantah anggapan umum yang menyatakan bahwa perang Iran-Israel merupakan pemicu utama depresiasi rupiah. Berdasarkan observasi data, indikator CDS Indonesia telah menunjukkan tren yang memburuk bahkan sebelum konflik di Timur Tengah memanas. Ia juga menambahkan bahwa jika perang menjadi faktor dominan, seharusnya pelemahan mata uang terjadi secara serempak dengan kedalaman serupa di negara-negara lain. Namun, data menunjukkan bahwa depresiasi yang dialami Indonesia jauh lebih tajam dibandingkan negara lain.

Dalam pengujian kausalitas menggunakan Granger Causality Test, Chatib juga menepis kemungkinan bahwa pelemahan rupiah yang menyebabkan kenaikan CDS. Hasil pengujian justru membuktikan bahwa pengaruh rupiah terhadap pergerakan CDS sangat kecil, yakni hanya sekitar 2,3 persen. Hal ini memperkuat argumen bahwa risiko fiskal merupakan variabel independen yang menjadi motor utama pelemahan mata uang nasional.

Tantangan strategis yang dihadapi pemerintah saat ini bukan terletak pada fundamental ekonomi yang memburuk, melainkan pada upaya memulihkan kepercayaan investor terhadap keberlanjutan fiskal. Kekhawatiran pelaku pasar berfokus pada prospek defisit anggaran serta konsistensi kebijakan fiskal di masa depan. Ketidakpastian mengenai keberlanjutan defisit anggaran inilah yang kemudian memicu kecemasan atau anxiety di kalangan investor, yang pada akhirnya berdampak pada performa nilai tukar rupiah di pasar keuangan global.

Rekomendasi