Jakarta – Kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dalam menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) ke level 5,5 persen dinilai berhasil memicu sentimen positif di pasar keuangan domestik. Langkah strategis ini terbukti mampu menarik minat investor asing, yang tercermin dari derasnya aliran modal masuk (capital inflow) ke berbagai instrumen investasi serta penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, memaparkan bahwa kepercayaan investor global terlihat signifikan pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN). Data per 10 Juni 2026 mencatat aliran dana asing ke SRBI mencapai Rp15,11 triliun. Tren positif berlanjut pada 11 Juni 2026, di mana investor asing melakukan pembelian neto SBN sebesar Rp3,91 triliun. Secara total, akumulasi aliran dana masuk ke kedua instrumen tersebut menembus angka Rp19 triliun.
Selain instrumen pemerintah, antusiasme investor juga terlihat pada pasar obligasi korporasi dan lembaga. Penerbitan perdana obligasi internasional oleh Danantara mencatatkan permintaan pasar yang sangat tinggi, mencapai Rp26,9 triliun. Destry menyatakan bahwa fenomena ini menjadi indikator kuat tingginya kepercayaan investor terhadap fundamental aset-aset domestik di Indonesia di tengah dinamika ekonomi global.
Sebagai respons atas kondisi tersebut, nilai tukar rupiah mencatatkan perbaikan kinerja pada perdagangan Jumat (12/6). Rupiah ditutup menguat 128 poin atau 0,71 persen ke level Rp17.860 per dolar AS, dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di posisi Rp17.988 per dolar AS.
Keberhasilan ini tidak terlepas dari bauran kebijakan moneter yang diterapkan Bank Indonesia. Selain penyesuaian BI-Rate, otoritas moneter memperkuat struktur suku bunga SRBI, menyediakan insentif hedging swap bagi investor asing, serta membuka akses repo untuk menjaga likuiditas perbankan nasional. Bank Indonesia juga meningkatkan intensitas operasi moneter baik di pasar uang rupiah maupun pasar valuta asing. Destry menegaskan bahwa seluruh langkah ini merupakan hasil sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi.
Dalam upaya memperkuat ketahanan eksternal, Bank Indonesia juga memperluas kerja sama strategis dengan bank sentral negara lain, yakni People’s Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA). Kerja sama ini mencakup penguatan sinergi stabilitas keuangan regional, pembaruan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), serta perluasan penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Implementasi skema LCT ini diproyeksikan mampu mengurangi ketergantungan ekonomi nasional terhadap dolar AS secara bertahap. Langkah ini dipandang sebagai instrumen krusial untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka panjang di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.























