Rupiah Menguat, Peluang Kembali ke Level Rp18.000 Per Dolar Mengecil

persen

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan kinerja positif pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (12/6). Mata uang Garuda berhasil menguat sebesar 0,72% ke level Rp 17.860 per dolar AS dari posisi penutupan sehari sebelumnya di level Rp 17.989 per dolar AS.

Penguatan ini sekaligus mengukuhkan tren apresiasi rupiah sepanjang pekan berjalan. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang domestik telah mencatatkan penguatan akumulatif sebesar 0,98% dibandingkan posisi awal pekan yang berada di level Rp 18.188 per dolar AS.

Tren penguatan tersebut juga terkonfirmasi melalui kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia. Sepanjang periode 8 hingga 12 Juni 2026, kurs JISDOR menunjukkan pergerakan dari Rp 18.171 per dolar AS menjadi Rp 17.921 per dolar AS. Secara persentase, rupiah telah terapresiasi sekitar 1,38% dalam kurun waktu satu pekan terakhir.

Para analis menilai, sentimen utama yang menopang stabilitas dan penguatan rupiah adalah kebijakan moneter Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate ke level 5,50%. Kebijakan ini dinilai efektif dalam meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik di mata investor global, sehingga memicu kembalinya aliran modal asing masuk ke pasar keuangan Indonesia.

Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menyatakan bahwa sentimen positif dari kenaikan suku bunga tersebut mampu meredam tekanan terhadap rupiah. Meski volatilitas pasar global masih tergolong tinggi, minat investor asing terhadap instrumen berbasis rupiah mulai menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Budi menambahkan, risiko depresiasi rupiah ke atas level Rp 18.000 per dolar AS saat ini dinilai lebih kecil dibandingkan periode sebelumnya. Faktor fundamental dari arus masuk modal asing menjadi bantalan kuat yang menjaga nilai tukar tetap berada di rentang yang lebih kompetitif.

Mengenai proyeksi jangka pendek, Budi memprediksi pergerakan rupiah akan berada pada rentang antara Rp 17.700 hingga Rp 18.000 per dolar AS. Skenario dasar yang paling memungkinkan adalah pergerakan rupiah di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 17.900 per dolar AS.

Pergerakan nilai tukar selama sepekan terakhir memang diwarnai oleh dinamika antara sentimen positif dari kebijakan moneter domestik dan penguatan dolar AS yang masih dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal global. Namun, dengan respons pasar yang tetap positif terhadap kebijakan Bank Indonesia, stabilitas nilai tukar diperkirakan akan lebih terjaga pada pekan mendatang.

Budi optimistis bahwa kecenderungan rupiah akan lebih stabil dibandingkan awal pekan ini, dengan potensi penguatan menuju level Rp 17.700 per dolar AS. Dukungan dari arus modal yang konsisten diharapkan dapat menjadi jangkar bagi rupiah dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi pasar keuangan domestik.

Rekomendasi