Jakarta – Tingginya kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia tercermin dari kesuksesan Danantara Investment Management (DIM) dalam penerbitan obligasi dolar AS perdana. Meski di tengah tantangan fluktuasi nilai tukar rupiah, lembaga tersebut berhasil meraup dana segar sebesar US$1,5 miliar atau setara Rp26,92 triliun.
Antusiasme pasar yang luar biasa memaksa Danantara menaikkan target emisi dari rencana awal yang hanya US$1 miliar. Berdasarkan data penawaran, total pemesanan yang masuk menembus angka US$4,6 miliar hingga Kamis (11/6) malam.
“Besarnya minat investor memungkinkan kami menekan tingkat imbal hasil akhir sebesar 35 basis poin dari panduan harga awal,” ungkap sumber yang mengetahui proses transaksi tersebut.
Dana tersebut terbagi dalam dua seri obligasi dengan tenor lima tahun dan 10 tahun, masing-masing senilai US$750 juta. Untuk tenor lima tahun, imbal hasil (yield) ditetapkan sebesar 5,35 persen, sementara tenor 10 tahun berada di level 5,95 persen. Angka ini lebih kompetitif dibandingkan panduan awal yang sempat menyentuh 5,70 persen dan 6,30 persen.
Langkah strategis ini dilakukan Danantara di tengah sorotan pasar terhadap kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serta upaya Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah melalui kenaikan suku bunga acuan ke level 5,50 persen.
Rencananya, seluruh dana hasil penerbitan obligasi akan dialokasikan untuk kebutuhan korporasi umum, termasuk pendanaan investasi dan pembiayaan kembali utang yang sudah ada. Penerbitan ini merupakan bagian dari program Global Medium-Term Notes (GMTN) senilai total US$5 miliar.
Proses transaksi ini melibatkan konsorsium bank internasional dan regional sebagai penjamin emisi, yakni Citigroup, DBS, HSBC, Mandiri Sekuritas, dan Standard Chartered. Obligasi tersebut dijadwalkan resmi diterbitkan pada 18 Juni 2026.





















