Ahli Nuklir AS Tawarkan Reaktor SMR Sebagai Solusi Listrik Terpencil

persen

Jakarta – Pemerintah Amerika Serikat menyatakan komitmennya untuk mendukung pengembangan energi nuklir di Indonesia, khususnya melalui pemanfaatan teknologi Small Modular Reactor (SMR). Teknologi reaktor nuklir skala kecil ini dinilai sebagai solusi strategis untuk memenuhi kebutuhan listrik di wilayah pelosok maupun sektor industri intensif energi, seperti pertambangan dan pusat data.

Kelle Barfield, konsultan keterlibatan pemangku kepentingan nuklir dari Amerika Serikat, menjelaskan bahwa SMR memiliki keunggulan pada aspek mobilitas dan efisiensi. Berbeda dengan pembangkit nuklir konvensional, unit SMR diproduksi secara massal di pabrik sebelum dikirim dan dirakit di lokasi tujuan. Proses ini memungkinkan instalasi yang lebih cepat serta penempatan yang fleksibel di area terpencil yang sulit dijangkau jaringan listrik utama.

Dalam diskusi panel di @atamerica, Jakarta, Barfield menegaskan bahwa Amerika Serikat siap memberikan bantuan teknis, pelatihan sumber daya manusia, hingga skema pendanaan bagi Indonesia. Dukungan ini diperkuat dengan adanya Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang disepakati oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump pada Februari 2026. Perjanjian tersebut memungkinkan adopsi lisensi desain SMR dari Amerika Serikat ke Indonesia, sehingga mempercepat proses standarisasi operasional dan regulasi yang diawasi oleh US Nuclear Regulatory Commission.

Pemanfaatan SMR bukan sekadar wacana. Amerika Serikat sendiri telah mengimplementasikan teknologi serupa dalam program militer yang dikenal sebagai Janice. Saat ini, sembilan pangkalan militer AS telah mengoperasikan reaktor kecil dengan kapasitas masing-masing lima megawatt untuk menjamin ketahanan energi mandiri.

Pemerintah Indonesia menyambut baik tawaran tersebut. Anggota Dewan Energi Nasional, Sripeni Inten Cahyani, mengungkapkan bahwa rencana pengembangan nuklir telah dimasukkan ke dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Meskipun kapasitas awal yang direncanakan sebesar 500 megawatt, pemerintah menekankan pentingnya aspek keamanan dan tata kelola yang matang.

Inten menyebutkan bahwa SMR menawarkan profil risiko yang lebih rendah dibandingkan reaktor skala besar karena proses komisioning dilakukan secara standar di pabrik. Pemerintah Indonesia menargetkan adopsi teknologi yang sudah teruji secara komersial untuk menghindari risiko kegagalan operasional. Mengingat sebagian teknologi SMR di dunia masih dalam tahap desain atau uji coba, Indonesia tetap membuka ruang kolaborasi dengan berbagai negara lain, termasuk Rusia dan Tiongkok, guna memastikan teknologi yang dipilih telah terbukti andal.

Amerika Serikat dipandang memiliki keunggulan kompetitif karena kematangan teknologi nuklir yang mereka miliki serta dukungan pendanaan berupa hibah untuk tahap studi kelayakan. Dengan target operasional perdana pada tahun 2029, kolaborasi internasional ini diharapkan dapat mempercepat transisi energi Indonesia menuju bauran energi bersih yang lebih stabil dan berkelanjutan bagi kebutuhan nasional.

Rekomendasi