IHSG Berpotensi Uji Level 5.600, Simak Rekomendasi Saham Pilihan

persen

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali gagal mempertahankan posisi psikologis di level 6.000, meskipun sempat mencatatkan upaya pemulihan pada perdagangan Kamis (25/6/2026). Indeks ditutup menguat tipis sebesar 1,96 persen ke level 5.999,04. Ketidakmampuan indeks untuk bertahan di atas level krusial tersebut dipicu oleh sentimen negatif yang berkepanjangan terkait hasil evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia.

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menyatakan bahwa dinamika pasar saat ini lebih didominasi oleh faktor sentimen negatif dibandingkan dengan kondisi fundamental emiten. Menurutnya, tekanan jual yang terjadi di pasar lebih bersifat sentiment-driven selloff daripada sebuah keruntuhan fundamental perusahaan. Sentimen ini memperpanjang ketidakpastian investor terhadap prospek pasar modal domestik dalam jangka pendek.

Dalam analisis teknikal jangka pendek, Wafi memprediksi bahwa titik terendah atau bottom IHSG akan berada di rentang 5.600 hingga 5.750. Level 5.600 dinilai sebagai support kuat karena angka tersebut dianggap telah mencerminkan diskon mendalam atas nilai fundamental emiten. Tekanan pada IHSG diperkirakan akan terus berlanjut apabila arus keluar modal asing atau foreign outflow tetap deras dan nilai tukar rupiah tidak kunjung menguat.

Proyeksi untuk jangka menengah hingga akhir tahun 2026 bergantung pada dua skenario utama. Dalam skenario dasar, IHSG berpotensi bergerak dalam rentang 6.200 hingga 6.500, dengan asumsi adanya reformasi pasar modal yang direspons positif oleh MSCI serta stabilitas kurs rupiah. Sebaliknya, dalam skenario negatif, indeks berisiko terkoreksi ke kisaran 5.500 hingga 5.800 jika MSCI memutuskan untuk menurunkan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market pada evaluasi berikutnya.

Menghadapi volatilitas pasar yang masih tinggi, investor disarankan untuk tetap menerapkan strategi akumulasi saham secara bertahap. Wafi menegaskan bahwa langkah ini jauh lebih bijak daripada mencoba menebak waktu terbaik untuk masuk ke pasar atau timing the bottom. Investor juga diminta untuk lebih selektif dalam memilih aset dengan menghindari saham yang memiliki isu klasifikasi struktur induk atau holding structure classification (HSC) serta saham dengan tingkat free float yang rendah, karena berpotensi menjadi sorotan negatif oleh MSCI.

Dari sisi sektoral, beberapa sektor dinilai masih memiliki ketahanan yang cukup baik terhadap tekanan pasar. Sektor energi dan komoditas, sektor perbankan dengan rasio Current Account Saving Account (CASA) yang tinggi, serta sektor barang konsumsi pokok atau consumer staples menjadi pilihan utama. Beberapa saham yang direkomendasikan untuk dicermati oleh investor di tengah kondisi pasar yang fluktuatif ini meliputi BBCA, BMRI, ADRO, PTBA, dan INDF. Ketahanan fundamental emiten-emiten tersebut diharapkan dapat menjadi bantalan bagi portofolio investor di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik.

Rekomendasi