Jakarta – Mayoritas bursa saham di kawasan Asia mengalami tekanan jual pada perdagangan Jumat (26/6/2026) pagi. Penurunan ini dipicu oleh aksi ambil untung investor setelah saham-saham sektor teknologi, khususnya produsen cip, mencatatkan reli kenaikan yang cukup signifikan pada sesi perdagangan sebelumnya.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 08.20 WIB, indeks Nikkei 225 di Jepang memimpin pelemahan dengan koreksi sebesar 2.109,21 poin atau 2,92 persen ke level 70.251,25. Kondisi serupa terjadi pada indeks Kospi di Korea Selatan yang merosot 218,97 poin atau 2,54 persen ke posisi 8.703,20. Indeks Taiex di Taiwan juga tertekan sebesar 1,17 persen ke 45.716,86, sementara indeks Hang Seng di Hong Kong turun 0,54 persen ke 22.952,09. Selain itu, indeks Straits Times di Singapura melemah 0,42 persen ke level 5.197,02. Di sisi lain, indeks ASX 200 di Australia dan FTSE Malaysia mencatatkan kenaikan tipis masing-masing sebesar 0,19 persen dan 0,02 persen.
Koreksi di pasar modal Asia ini merupakan cerminan dari volatilitas yang terjadi di Wall Street, Amerika Serikat. Sektor teknologi, yang selama ini menjadi motor penggerak utama pertumbuhan indeks, kini tengah menghadapi tekanan jual yang cukup intens. Investor mulai mempertanyakan keberlanjutan valuasi perusahaan-perusahaan raksasa teknologi yang sempat melambung tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Sentimen pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh kekhawatiran mengenai besarnya belanja modal perusahaan untuk pengembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Besarnya investasi tersebut memicu keraguan di kalangan pelaku pasar mengenai apakah keuntungan yang dihasilkan nantinya akan sebanding dengan harga saham yang telah terbentuk saat ini. Ketidakpastian mengenai prospek bisnis di masa depan membuat saham-saham produsen cip menjadi sasaran aksi jual di berbagai bursa global pekan ini.
Strategis pasar dari Miller Tabak, Matt Maley, menyatakan bahwa tanda-tanda kelemahan memang mulai terlihat pada sektor teknologi. Menurutnya, kinerja perusahaan-perusahaan besar atau hyperscaler menjadi indikator krusial bagi arah pasar secara keseluruhan. Maley menambahkan bahwa jika tren penurunan pada saham-saham teknologi ini terus berlanjut, akan menjadi tantangan yang sangat berat bagi indeks pasar saham secara luas untuk mempertahankan momentum kenaikan atau melanjutkan tren positif.
Di tengah gejolak pasar saham tersebut, aset aman atau safe haven seperti emas tetap menjadi perhatian investor. Meskipun harga emas sempat menunjukkan koreksi pada perdagangan Jumat pagi, logam mulia ini terpantau masih mampu bertahan di kisaran level US$ 4.000 per ons. Stabilitas harga emas di level tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar masih cenderung bersikap waspada dan memprioritaskan mitigasi risiko di tengah fluktuasi indeks saham Asia yang cukup tajam. Para analis memprediksi bahwa volatilitas di sektor teknologi masih akan membayangi bursa Asia dalam jangka pendek hingga terdapat kejelasan lebih lanjut mengenai laporan keuangan perusahaan sektor tersebut.





















