Program MBG Pacu Permintaan, Saham Sektor Poultry Tetap Positif

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah menjadi motor penggerak utama bagi kinerja emiten sektor unggas sepanjang kuartal III-2026.

Peningkatan jumlah penerima manfaat program tersebut dari 53,8 juta orang pada akhir 2025 menjadi 60,2 juta orang per Februari 2026 telah mendongkrak permintaan protein hewani secara signifikan.

Proyeksi tambahan permintaan ayam dari program ini diperkirakan mencapai 431.000 ton pada tahun 2026, melonjak tajam dari 216.000 ton pada periode tahun sebelumnya.

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, Hari Rachmansyah menyatakan, prospek sektor unggas tetap berada dalam tren positif selama implementasi program MBG berjalan sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan.

“Secara struktural, permintaan dari MBG semakin besar sepanjang tahun. Selama program ini berjalan sesuai anggaran, prospek sektor menuju kuartal III-2026 masih positif,” ujarnya dikutip dari laman resmi perusahaan, Jumat (4/7).

Optimisme pasar juga didukung oleh realisasi kinerja emiten pada kuartal pertama tahun 2026 yang melampaui ekspektasi.

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) mencatatkan lonjakan laba bersih hingga 167 persen secara tahunan, sementara PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) membukukan pertumbuhan laba 67,7 persen pada periode yang sama.

Stabilnya harga jagung pasca-panen serta perbaikan keseimbangan pasokan broiler menjadi katalis tambahan yang memperkuat fundamental emiten.

Data industri menunjukkan angka kelebihan pasokan atau oversupply broiler diproyeksikan menyusut menjadi 17,5 persen pada 2026, jauh lebih rendah dibandingkan 33,3 persen pada 2023.

Meskipun prospek terlihat cerah, para analis tetap memberikan catatan mengenai risiko yang mengintai pada paruh kedua tahun ini.

Equity Analyst Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis Setyo Wibowo menyebutkan bahwa meski kinerja diperkirakan tetap tumbuh positif, lajunya kemungkinan tidak akan sekuat semester pertama.

“Kami memperkirakan kinerja masih tumbuh positif, didukung harga live bird dan DOC yang relatif stabil serta permintaan yang membaik seiring meningkatnya konsumsi domestik,” kata Azis.

Ia menekankan agar investor tetap memantau pergerakan harga komoditas global, seperti bungkil kedelai (SBM) serta stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Di sisi lain, pandangan lebih konservatif datang dari pihak analis terkait perusahaan dengan skala bisnis yang lebih kecil.

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi menilai PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) cenderung menghadapi tekanan moderat hingga negatif.

“MAIN paling rentan terhadap tekanan harga live bird dan penyempitan margin. Selain itu, pemangkasan anggaran MBG menjadi headwind yang belum sepenuhnya terserap industri,” jelas Wafi.

Menurutnya, keterbatasan ruang neraca keuangan membuat perusahaan skala menengah lebih sulit menghadapi volatilitas biaya impor bahan baku dibandingkan integrator besar.

Terkait strategi investasi, Hari Rachmansyah memberikan rekomendasi beli untuk CPIN dengan target harga Rp 5.900 per saham dan JPFA dengan target Rp 3.400 per saham.

Sementara itu, Muhammad Wafi menyarankan sikap accumulate untuk CPIN, hold untuk JPFA, dan tetap wait and see untuk MAIN hingga tekanan harga pasar mereda.

Abdul Azis Setyo Wibowo memiliki pandangan berbeda dengan merekomendasikan beli untuk ketiga emiten tersebut, masing-masing dengan target harga Rp 750 untuk MAIN, Rp 3.140 untuk JPFA, dan Rp 3.660 untuk CPIN.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar