Jakarta – Lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P) menyoroti sejumlah tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia di tengah upaya pemerintah menjaga stabilitas fiskal.
S&P mencatat adanya kerentanan pada neraca perdagangan akibat ketergantungan impor minyak mentah dan BBM yang membebani keuangan negara.
Lembaga tersebut juga menyoroti potensi risiko dari perubahan kebijakan di sektor sumber daya alam yang dinilai dapat memengaruhi iklim investasi jika tidak dikelola dengan cermat.
Meski demikian, S&P tetap mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga kredibilitas kebijakan ekonomi nasional.
“Keputusan S&P mempertahankan peringkat Indonesia pada level investment grade dengan outlook stabil menunjukkan bahwa arah kebijakan ekonomi nasional terjaga kredibel,” ujar Purbaya dalam keterangan tertulis, Senin (13/7).
Purbaya menambahkan, pemerintah akan terus memperkuat disiplin fiskal serta memastikan pengelolaan pembiayaan dilakukan secara efisien dan berkelanjutan.
S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia mampu tumbuh di kisaran 5 persen per tahun dalam jangka menengah.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh kebijakan hilirisasi yang diharapkan mampu meningkatkan pendapatan ekspor dan penerimaan negara.
Di sisi lain, S&P mencatat adanya tekanan pada pasar keuangan domestik, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan kapitalisasi pasar saham.
Lembaga tersebut juga menyoroti langkah pemerintah dalam melakukan efisiensi anggaran, termasuk penyesuaian desain program Makan Bergizi Gratis.
S&P menilai Bank Indonesia telah menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga stabilitas moneter melalui kebijakan suku bunga yang responsif.





















