Mencermati Saham LQ45: BRPT dan PGAS di Tengah Daftar PER

Jakarta – Pasar modal Indonesia mencatatkan lonjakan aktivitas perdagangan yang signifikan pada Senin, 13 Juli 2026.

Total nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia (BEI) melonjak tajam hingga mencapai Rp12,2 triliun.

Pencapaian ini meningkat cukup drastis dibandingkan dengan nilai transaksi pada sesi perdagangan sebelumnya yang hanya berada di angka Rp8,9 triliun.

Di balik tren positif kenaikan nilai transaksi tersebut, investor asing justru tercatat melakukan aksi jual bersih atau net sell.

Data perdagangan menunjukkan investor asing melepas saham dengan total volume mencapai 449,6 juta lembar saham.

Secara nilai, aksi jual oleh investor asing tersebut mencapai Rp437,7 miliar di pasar reguler.

Kenaikan harga saham yang paling mencolok pada perdagangan hari ini justru terjadi pada kelompok saham berkapitalisasi besar atau saham berharga mahal.

PT Barito Pacific (BRPT) memimpin penguatan di kelompok saham mahal dengan kenaikan harga sebesar 8,02 persen.

Saham BRPT juga mencatatkan nilai transaksi paling jumbo di kelompoknya, yakni mencapai Rp540,1 miliar.

Kinerja positif juga ditunjukkan oleh PT Amman Mineral Internasional (AMMN) yang menguat sebesar 7,69 persen.

Dikutip dari Pusat Data Kontan, Senin (13/7/2026), sebanyak lima dari sepuluh saham dalam daftar kelompok termahal berhasil membukukan kenaikan di atas 3 persen.

Saham-saham tersebut meliputi CUAN, UNTR, BUMI, BRPT, dan AMMN yang mencatatkan apresiasi harga cukup agresif.

Sementara itu, di kelompok saham dengan rasio Price Earning Ratio (PER) terendah, PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) kembali menjadi penggerak utama.

Saham PGAS mencatatkan kenaikan sebesar 4,44 persen, melanjutkan tren positif setelah sebelumnya naik 4,64 persen.

PT Bank Negara Indonesia (BBNI) menyusul dengan penguatan sebesar 3,22 persen.

Hanya terdapat dua saham di kelompok PER rendah yang ditutup melemah, yakni HRTA dan INDF, sementara CPIN terpantau stagnan.

Analisis pasar menggunakan indikator PER dan Price to Book Value (PBV) menjadi acuan penting bagi para investor dalam menentukan valuasi saham.

Indikator PER digunakan untuk mengukur perbandingan harga saham dengan laba bersih per saham yang dihasilkan perusahaan.

Semakin rendah angka PER, secara teoretis mencerminkan harga saham yang lebih terjangkau dibandingkan kemampuan labanya.

Di sisi lain, rasio PBV membandingkan harga saham dengan nilai aset bersih perusahaan.

PBV di bawah 1 kali menunjukkan saham tersebut diperdagangkan di bawah nilai buku asetnya.

PT Semen Indonesia (SMGR) tercatat memegang status dengan PBV termurah yakni 0,22 kali, diikuti PT Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) sebesar 0,34 kali.

Di luar dinamika kenaikan harga, PT GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) justru mengalami kelesuan transaksi yang cukup dalam.

Volume transaksi GOTO merosot drastis menjadi 41,6 juta saham, jauh dibandingkan sesi sebelumnya yang mencapai 297,8 juta saham.

Nilai transaksi GOTO pun tercatat paling kecil di antara 20 saham gabungan yang dipantau, yakni hanya Rp2,1 miliar dengan harga yang stagnan di level Rp50 per saham.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar