Jakarta – Harga emas dunia diproyeksikan mencatatkan penurunan mingguan paling tajam dalam enam pekan terakhir akibat dinamika geopolitik global.
Kondisi ini dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang mengakibatkan lonjakan harga minyak mentah secara signifikan.
Pada perdagangan Jumat (17/7/2026), harga emas spot sempat mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,3% ke posisi US$ 3.980,64 per troy ounce pada pukul 04.55 GMT.
Meskipun terdapat penguatan harian, tren harga emas secara keseluruhan berada dalam tekanan setelah sempat menyentuh level terendah sejak 1 Juli 2026.
Kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus juga mengalami koreksi sebesar 0,2% menjadi US$ 3.984,10 per troy ounce.
Secara kumulatif, harga emas telah terkoreksi sekitar 3,4% sepanjang pekan ini, yang menandai penurunan mingguan terdalam sejak awal Juni.
Pelemahan ini terjadi di tengah data inflasi Amerika Serikat bulan Juni yang sebenarnya menunjukkan sinyal perlambatan.
Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, menilai bahwa sentimen positif dari data inflasi tertutup oleh kecemasan pasar terhadap lonjakan harga energi.
“Lonjakan harga minyak pekan ini membuat pasar tidak bisa sepenuhnya merayakan data inflasi yang lebih rendah,” kata Waterer sebagaimana dikutip dari laporan pasar terkait, Jumat (17/7/2026).
Ia menambahkan, kekhawatiran terhadap inflasi susulan dan kenaikan imbal hasil obligasi tetap menjadi faktor utama yang menekan harga emas.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah terjadi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran yang merusak gencatan senjata bulan lalu.
Konflik tersebut kini mengancam stabilitas arus pasokan energi global, khususnya yang melintasi Selat Hormuz.
Laporan terkait menyebutkan bahwa Iran telah menginstruksikan kelompok Houthi untuk bersiap menutup jalur ekspor di kawasan Laut Merah.
Dampak langsung dari situasi ini adalah lonjakan harga minyak dunia sebesar 12% dalam satu pekan terakhir.
Kenaikan harga minyak tersebut memicu kekhawatiran akan kembalinya tekanan inflasi global yang lebih persisten.
Jika inflasi tetap bertahan pada level tinggi, ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter ketat dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, semakin menguat.
Emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil cenderung kehilangan daya tarik bagi investor ketika suku bunga berada dalam tren kenaikan.
Sinyal pengetatan moneter diperkuat oleh pernyataan Presiden Federal Reserve Dallas, Lorie Logan, yang secara terbuka mendukung kenaikan suku bunga.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Wakil Ketua The Fed, Philip Jefferson, yang menyatakan keterbukaan terhadap langkah tersebut jika inflasi tidak melambat secara konsisten.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Desember kini diprediksi mencapai sekitar 73%.
Sentimen negatif ini juga merambat ke pasar logam mulia lainnya di penghujung pekan.
Harga perak spot tercatat turun 0,6% menjadi US$ 55,20 per troy ounce.
Sementara itu, harga platinum melemah sebesar 1,1% ke level US$ 1.599,17 per troy ounce.
Paladium juga tidak luput dari tekanan dengan penurunan 0,4% menjadi US$ 1.244,16 per troy ounce.





















