Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir pekan pada Sabtu, 25 Juli 2026, dengan catatan negatif setelah mengalami tekanan jual selama tiga hari berturut-turut.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan indeks acuan domestik tersebut terkoreksi cukup dalam sebesar 1,88 persen atau setara dengan 118 poin.
Posisi penutupan IHSG pada akhir perdagangan Jumat (24/7/2026) berada di level 6.196,43.
Meskipun terjadi pelemahan signifikan di akhir pekan, secara akumulatif selama sepekan terakhir, IHSG masih mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,34 persen.
Tekanan pada pasar modal domestik ini terjadi merata di seluruh indeks sektoral.
Sektor barang konsumer non-primer menjadi pemberat utama dengan mencatatkan penurunan tajam hingga 3,04 persen.
Analis menilai pelemahan ini merupakan imbas langsung dari sentimen negatif yang datang dari pasar keuangan global, khususnya bursa Amerika Serikat (Wall Street).
Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyatakan bahwa koreksi tajam tersebut dipicu oleh sentimen negatif pada saham-saham teknologi raksasa di Wall Street.
Penurunan harga saham Alphabet sebesar 7 persen dan Tesla hingga 14 persen setelah rilis laporan keuangan kuartal kedua menjadi pemantik utama.
Investor global kini mulai mencemaskan valuasi perusahaan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dinilai sudah terlalu tinggi atau stretched.
Selain faktor teknologi, kenaikan harga komoditas energi turut memperkeruh sentimen pasar secara global.
“Minyak Brent tembus USD 100,69 per barel pertama kali yang memperburuk kekhawatiran inflasi global,” ujar Wafi melalui pernyataan resmi, Jumat (24/7/2026).
Kondisi ekonomi makro saat ini membuat posisi pemulihan IHSG menjadi sangat rentan dan belum terkonfirmasi dengan kuat.
Secara teknikal, batas bawah atau support dasar IHSG saat ini berada di kisaran 5.950.
Sementara itu, level batas atas atau resistance psikologis di area 6.471 masih dianggap cukup jauh untuk ditembus dalam waktu dekat.
“Koreksi dua hari beruntun Kamis-Jumat mencerminkan rebound masih fragile dan sangat bergantung sentimen eksternal,” tutur Wafi.
Di tengah ketidakpastian pasar yang tinggi, investor disarankan untuk lebih selektif dalam memilih aset portofolio.
Strategi yang disarankan adalah memprioritaskan emiten dengan pelindung alami atau natural hedge serta memiliki visibilitas laba yang solid.
Sektor energi dan komoditas seperti PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dinilai memiliki prospek positif berkat tren kenaikan harga minyak dunia.
Untuk saham perbankan dengan basis dana murah atau Current Account Savings Account (CASA) tinggi, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), disarankan untuk tetap dipertahankan sebagai core holding.
Di sisi lain, pelaku pasar diminta untuk menghindari saham barang konsumer yang sensitif terhadap impor dan emiten pengimpor yang rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah.
Memasuki perdagangan pekan depan, IHSG diprediksi masih akan bergerak volatil dengan kecenderungan bervariasi.
Rentang support kuat diperkirakan berada di level 6.185 hingga 6.250, sementara resistance berada di level 6.350 hingga 6.470.
Pergerakan pasar ke depan akan sangat bergantung pada rilis laporan keuangan semester pertama perbankan besar, data inflasi AS, serta dinamika konflik di Selat Hormuz.
“Target akhir tahun base case KISI tetap 6.000-6.500, penentu utama tetap MSCI November,” pungkas Wafi.





















