Indeks Kompas100 Ungguli IHSG Sebulan Terakhir, Simak Rekomendasi Sahamnya

Indeks Kompas100 Ungguli IHSG Sebulan Terakhir, Simak Rekomendasi Sahamnya

Jakarta – Indeks Kompas100 menunjukkan ketangguhan performa di tengah situasi pasar modal yang masih diselimuti volatilitas tinggi sepanjang Juli 2026.

Data Google Finance mencatat IDX Kompas100 berhasil mencatatkan penguatan sebesar 6,10% dalam satu bulan terakhir hingga Jumat (24/7/2026), membawa indeks tersebut ke level 811,09.

Capaian ini melampaui kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pada periode sama menguat 5,09% ke level 6.196,43.

Meskipun mencatatkan tren positif jangka pendek, indeks Kompas100 secara akumulatif masih tertekan dengan koreksi sebesar 32,70% sejak awal tahun atau year to date (ytd).

Pada periode yang sama, IHSG juga mengalami pelemahan sebesar 29,17% ytd.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Sekolah Saham Indonesia, Raden Bagus Bima, menilai indeks Kompas100 memiliki keunggulan performa karena didukung oleh konstituen saham dengan likuiditas tinggi dan fundamental yang kuat.

Menurutnya, IHSG yang mencakup seluruh sektor seringkali terbebani oleh sektor-sektor yang sedang mengalami perlambatan.

“IHSG bisa mengungguli Kompas100 kemungkinan saat posisinya sudah mencapai level 7.500-8.000 kembali,” ujar Raden Bagus Bima sebagaimana dikutip dari keterangan resminya, Jumat (24/7/2026).

Senada dengan hal tersebut, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, berpendapat bahwa potensi kenaikan atau upside pada indeks Kompas100 saat ini jauh lebih asimetris dibanding IHSG.

Abida menjelaskan bahwa risiko makroekonomi pada saham-saham berkapitalisasi besar di indeks tersebut sudah terdiskon habis setelah koreksi panjang sejak awal tahun.

“Tren outperform akan berlanjut selama inflow konsisten. Namun, saat volatilitas global kembali meningkat, indeks Kompas100 tetap rentan karena konstituen big caps-nya adalah target utama net sell asing secara mekanis,” ungkap Abida, Jumat (24/7/2026).

Sentimen pasar ke depan diperkirakan akan dipengaruhi oleh rencana pemangkasan suku bunga acuan The Fed pada semester II-2026 yang dapat memicu rotasi dana ke pasar negara berkembang.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menambahkan bahwa kinerja keuangan emiten pada semester II-2026 serta stabilitas harga komoditas akan menjadi penopang utama bagi saham pertambangan dan energi di dalam indeks.

Nafan menekankan bahwa meskipun gejolak pasar masih mungkin terjadi, koreksi pada indeks Kompas100 cenderung lebih terbatas dibandingkan saham lapis kedua atau ketiga.

“Sebab, kualitas fundamental emiten penyusunnya lebih baik dan lebih cepat menjadi sasaran akumulasi saat valuasi kembali menarik,” imbuh Nafan, Sabtu (25/7/2026).

Menanggapi prospek tersebut, para analis memberikan sejumlah rekomendasi saham bagi investor.

Nafan merekomendasikan akumulasi beli pada saham seperti BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, JSMR, KLBF, PGEO, TLKM, dan UNVR, serta menambahkan posisi pada saham AKRA, ACES, ESSA, ISAT, dan INKP.

Sementara itu, Abida merekomendasikan beli untuk saham BBCA dengan target harga Rp 10.900, BMRI Rp 6.200, ANTM Rp 4.900, TLKM Rp 3.750, dan ASII Rp 6.850 per saham.

Adapun Raden Bagus Bima menyarankan investor untuk mencermati saham BBCA dengan target Rp 7.300, BMRI Rp 5.000, TPIA Rp 2.700, DSSA Rp 1.150, serta AMMN pada level Rp 5.200 per saham.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar