Jakarta – PT Bumi Etam Chemical (BEC) secara resmi menargetkan operasional penuh fasilitas hilirisasi batu bara menjadi metanol pada tahun 2030.
Proyek strategis yang berlokasi di Kalimantan Timur ini diproyeksikan mampu memproduksi metanol sebanyak 2 juta ton per tahun pada tahap awal operasional komersial.
Sebelum mencapai target operasional penuh, perusahaan menjadwalkan tahapan komisioning atau uji coba fasilitas pada tahun 2029.
Presiden Direktur BEC, Rio Supin, mengungkapkan target produksi tersebut dalam acara penandatanganan kontrak Front End Engineering Design (FEED) dan Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) di Jakarta, Rabu (29/7).
“Di Tahun 2030 harapannya proyek ini secara komersial bisa memproduksi metanol 2 juta ton per tahun,” ujar Rio dikutip dari pernyataan resmi perusahaan pada acara penandatanganan di Jakarta, Rabu (29/7).
Proyek dengan nilai investasi mencapai US$ 2,3 miliar atau sekitar Rp 41,5 triliun ini dibangun di Batuta Chemical Industrial Park, Kabupaten Kutai Timur.
Fasilitas ini merupakan wujud nyata dari kewajiban peningkatan nilai tambah batu bara yang dijalankan oleh PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC).
BEC sendiri merupakan perusahaan patungan yang melibatkan Arutmin, KPC, PT Istana Karang Laut (IKL), serta China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC).
Pengembangan proyek ini telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) berdasarkan Permenko Perekonomian Nomor 8 Tahun 2023.
Secara teknis, pabrik ini dirancang untuk mengolah batu bara berkalori rendah dengan kandungan 3.300 kcal/kg GAR menjadi metanol dan produk sampingan berupa sulfuric acid.
Kapasitas produksi tersebut bahkan berpotensi ditingkatkan hingga mencapai 3,6 juta ton metanol per tahun pada kapasitas maksimalnya di masa depan.
Menurut Rio, langkah hilirisasi ini dilakukan untuk menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor metanol yang saat ini masih mendominasi kebutuhan dalam negeri.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kebutuhan metanol nasional pada 2025 mencapai 1,9 juta ton, di mana 1,3 juta ton di antaranya masih dipenuhi melalui impor.
“Pada 2025, kita menghabiskan devisa sekitar US$ 400 juta per tahun untuk impor metanol. Nilai impor ini setara Rp 7,1 triliun,” jelas Rio dikutip dari sumber terkait pada Rabu (29/7).
Kebutuhan metanol diprediksi akan terus meningkat seiring dengan implementasi program biodiesel yang lebih agresif di Indonesia, termasuk target penerapan B50.
Rio menambahkan, kondisi geopolitik global yang tidak menentu turut mendorong urgensi kemandirian pasokan metanol untuk menjaga stabilitas devisa negara.
Pihak perusahaan saat ini telah menjajaki kesepakatan awal dengan sejumlah calon pembeli domestik untuk menyerap produksi metanol tersebut.
“Target utama kami memang dari awal untuk mengganti impor, tujuan utamanya pasar domestik,” kata Rio dikutip dari keterangan pers pada Rabu (29/7).
Setelah penandatanganan kontrak FEED dan EPCC, BEC akan segera memfokuskan diri pada tahapan rekayasa sebelum memulai pembangunan fisik di lapangan.
“Setelah penandatanganan EPCC dan FEED ini, kami masih harus melalui langkah panjang. Kami akan menuju tahap rekayasa semoga tidak lama lagi akan memasuki tahap groundbreaking proyek fisik di masa yang akan datang,” ucap Rio dikutip dari dokumen pernyataan resmi perusahaan, Rabu (29/7).






















