Dua Saham Resmi Masuk Indeks LQ45, Simak Rekomendasi Analis Hari Ini

Rayhan Akhari

Dua Saham Resmi Masuk Indeks LQ45, Simak Rekomendasi Analis Hari Ini

Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi melakukan perombakan komposisi Indeks LQ45 yang mulai berlaku efektif pada Senin, 3 Agustus 2026.

Dua emiten baru, yakni PT Indika Energy Tbk (INDY) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), kini resmi masuk ke dalam jajaran indeks saham unggulan tersebut.

Keduanya menggantikan posisi PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) yang didepak dari daftar indeks LQ45.

Perubahan komposisi ini berdasarkan hasil evaluasi berkala yang diumumkan otoritas bursa pada 27 Juli 2026.

Data BEI mencatat, saham INDY masuk dengan bobot sebesar 0,25%, sementara NCKL memperoleh bobot sebesar 0,46%.

Keputusan memasukkan kedua saham tersebut didasarkan pada pemenuhan kriteria likuiditas perdagangan serta kapitalisasi pasar yang ditetapkan bursa.

Langkah ini diharapkan dapat memberikan diversifikasi sektor pada indeks LQ45 yang selama ini cenderung didominasi oleh saham-saham sektor perbankan dengan kapitalisasi pasar besar.

Menanggapi masuknya emiten baru ini, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, memberikan analisis mengenai prospek kinerja kedua saham tersebut.

Menurut Wafi, prospek kinerja INDY pada semester II-2026 masih terlihat konstruktif karena bisnis batu bara termal masih menjadi mesin penghasil arus kas yang solid.

“Segmen batu bara masih menjadi penopang utama arus kas, sementara diversifikasi ke EV dan renewable menjadi long-dated rerating catalyst,” ujar Wafi sebagaimana dikutip dari keterangan resminya, Selasa (28/7/2026).

Meski demikian, Wafi memberikan catatan bahwa investor perlu mewaspadai volatilitas saham INDY.

Ia menyebut INDY sebagai saham dengan karakteristik high beta yang pergerakannya cenderung lebih volatil dibandingkan pasar secara umum.

Koreksi harga yang tajam dapat terjadi apabila harga batu bara mengalami normalisasi atau jika premi perang (war premium) mereda.

Di sisi lain, Wafi menilai prospek NCKL jauh lebih menantang dibandingkan INDY dalam jangka pendek.

Ia berpendapat bahwa masuknya NCKL ke dalam LQ45 lebih didorong oleh lonjakan likuiditas perdagangan di pasar ritel, bukan karena perbaikan fundamental yang signifikan.

“NCKL merupakan nama yang paling challenging di antara pendatang baru LQ45. Likuiditasnya meningkat signifikan, tetapi tekanan oversupply nikel masih menjadi tantangan,” kata Wafi.

Menurutnya, industri nikel global saat ini masih berada di bawah tekanan oversupply struktural yang tercermin dari harga nikel di kisaran US$ 16.000 per ton.

Meskipun NCKL memiliki fasilitas pengolahan nikel berteknologi High Pressure Acid Leach (HPAL), lambatnya permintaan kendaraan listrik (EV) global membuat nilai tambah tersebut belum terealisasi maksimal.

“HPAL battery-grade nickel memang menjadi pembeda, tetapi pertumbuhan permintaan EV global yang lebih lambat dari ekspektasi mengurangi urgensi premium tersebut,” imbuh Wafi.

Berdasarkan analisis tersebut, Wafi cenderung lebih menjagokan INDY dibandingkan NCKL untuk dicermati investor selama semester II-2026.

Investor tetap diimbau untuk memperhatikan faktor fundamental dan kondisi industri sebelum mengambil keputusan investasi, kendati masuknya saham ke LQ45 sering kali memicu peningkatan likuiditas perdagangan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar