Jakarta – Pemerintah menyiapkan serangkaian stimulus ekonomi guna menjaga tren pertumbuhan positif yang telah dicapai pada semester I 2026.
Langkah ini diambil sebagai upaya antisipasi terhadap ketidakpastian geopolitik global yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemerintah akan terus memperkuat fondasi ekonomi domestik.
“Pemerintah terus waspada terhadap gejolak yang muncul di geopolitik sambil memperkuat fondasi perekonomian nasional,” ujar Airlangga di Jakarta, Rabu (5/8).
Strategi penguatan tersebut mencakup penyaluran bantuan pangan beras 10 kilogram bagi 33,24 juta penerima manfaat untuk menekan inflasi.
Pemerintah juga memberikan insentif sektor transportasi, seperti diskon tarif angkutan laut 30 persen dan PPN ditanggung pemerintah untuk tiket pesawat kelas ekonomi.
Dukungan sektor perumahan turut ditingkatkan melalui penambahan anggaran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Rp37,5 triliun menjadi Rp50 triliun.
Program-program ini diharapkan mampu menjaga pertumbuhan ekonomi semester II tetap berada di angka 5,4 persen sesuai target APBN 2026.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh solid sebesar 5,45 persen sepanjang semester I 2026.
Airlangga menyebut capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan performa ekonomi terbaik di kawasan Asia Tenggara.
“Dengan pertumbuhan 5,45 persen sepanjang satu semester ini juga di antara negara lain termasuk di ASEAN itu salah satu yang top,” ungkap Airlangga.
Data BPS menunjukkan sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi motor penggerak produksi dengan pertumbuhan 11,83 persen.
Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah mencatatkan lonjakan tertinggi sebesar 18,62 persen.



















