Rupiah Berpotensi Terkoreksi Hari Ini, Simak Proyeksi Pergerakannya

Kholida Rahman

Rupiah Berpotensi Terkoreksi Hari Ini, Simak Proyeksi Pergerakannya

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Rabu, 5 Agustus 2026.

Mata uang Garuda ditutup menguat sebesar 0,52 persen atau naik 94 poin ke level Rp 17.933 per dolar AS.

Data Bloomberg menunjukkan apresiasi rupiah tersebut sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS di pasar global.

Sementara itu, data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat penguatan lebih tinggi yakni 0,55 persen ke posisi Rp 17.937 per dolar AS.

Kenaikan tersebut merupakan pemulihan dari posisi penutupan sehari sebelumnya yang berada di angka Rp 18.037 per dolar AS.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa pelemahan indeks dolar AS memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk melakukan konsolidasi.

Sentimen positif juga muncul setelah adanya kemajuan dalam upaya diplomasi konflik di Timur Tengah yang dilaporkan oleh pemerintah Qatar.

Perkembangan geopolitik ini turut memberikan dampak langsung pada penurunan harga minyak mentah Brent hingga di bawah level US$ 80 per barel.

Penurunan harga komoditas energi tersebut terjadi meskipun terdapat bantahan dari Teheran terkait klaim negosiasi dengan Presiden AS Donald Trump.

Di sisi lain, pelaku pasar kini mulai mengalihkan fokus pada rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan keluar akhir pekan ini.

Data perubahan ketenagakerjaan ADP dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP) dijadwalkan rilis pada Jumat, 7 Agustus 2026.

Proyeksi pasar menunjukkan penambahan tenaga kerja sektor swasta versi ADP pada Juli diperkirakan hanya mencapai 70.000 pekerjaan.

Angka tersebut mencerminkan perlambatan dibandingkan realisasi bulan Juni yang mencapai 98.000 pekerjaan.

Perlambatan pertumbuhan lapangan kerja ini diyakini mampu meredam ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga lanjutan oleh bank sentral AS, The Fed.

Ketahanan ekonomi domestik juga menjadi motor penggerak penguatan nilai tukar rupiah saat ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan.

Capaian tersebut melampaui ekspektasi konsensus ekonom yang sebelumnya hanya memprediksi pertumbuhan di kisaran 4,8 persen hingga 4,9 persen.

Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi pada semester I-2026 tercatat sebesar 5,45 persen.

Stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah kondisi pengetatan kebijakan moneter global yang menekan banyak negara.

Selain pertumbuhan PDB yang solid, inflasi domestik juga terpantau tetap terkendali dengan baik.

BPS mencatat deflasi bulanan sebesar 0,14 persen pada Juli 2026 dengan tingkat inflasi tahunan berada di level 2,88 persen.

Penurunan harga komoditas pangan dinilai menjadi faktor kunci dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah pengeluaran pendidikan yang meningkat.

Menatap perdagangan Kamis, 6 Agustus 2026, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah masih akan bergerak fluktuatif.

Nilai tukar rupiah diperkirakan berpotensi bergerak di kisaran Rp 17.930 hingga Rp 17.980 per dolar AS.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar