Jayapura – Badan Gizi Nasional (BGN) resmi menghentikan sementara operasional Dapur Satuan Pelayanan Gizi (SPPG) Yayasan Kasih Iman Samuel Papua menyusul insiden keracunan massal yang menimpa 219 siswa di Distrik Depapre.
Langkah tegas ini diambil sebagai bentuk evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan mutu dan standar operasional prosedur (SOP) penyediaan makanan.
Wakil Kepala BGN, Mayjen TNI Trenggono, mengungkapkan bahwa pihaknya menemukan banyak kekurangan dalam proses penyediaan makanan di dapur tersebut saat melakukan peninjauan langsung ke lokasi.
“Memang banyak sekali kekurangan. Saya sudah tegur juga koordinator wilayah, kenapa pengawasan seperti ini masih terjadi,” tegas Trenggono.
Ia menjelaskan bahwa penelusuran awal mengindikasikan penurunan kualitas pada menu tempe bacem yang diduga dimasak terlalu dini sebelum disajikan kepada para siswa.
“Hasil penelusuran awal mengarah pada dugaan adanya penurunan kualitas salah satu menu, yakni tempe bacem yang dimasak terlalu dini,” ungkapnya.
Meski demikian, Trenggono menegaskan bahwa pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab pasti keracunan tersebut.
“Seluruh pihak diminta menunggu hasil investigasi resmi,” tambahnya.
Hingga saat ini, BGN terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Papua untuk memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan medis yang optimal.
Data terakhir mencatat sebanyak 219 siswa sempat mendapatkan perawatan, dengan delapan di antaranya sudah diperbolehkan pulang karena kondisi yang membaik.
Trenggono memastikan bahwa evaluasi ini akan menjadi dasar perbaikan sistem agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
“Sementara kita suspend dulu, kita cek dan investigasi di mana letak kesalahannya, apakah pada SOP atau bahan bakunya,” pungkasnya.





















