Jakarta – Dominasi manajer investasi (MI) asing, khususnya yang berbasis di Singapura, mewarnai peta kepemilikan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga akhir Juli 2026. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 31 Juli 2026, entitas luar negeri memegang kendali signifikan atas portofolio saham dengan kepemilikan di atas 1% pada berbagai emiten.
Data KSEI mencatat terdapat 60 klasifikasi kepemilikan saham oleh kelompok manajer investasi. Dari jumlah tersebut, dua institusi keuangan asal Singapura, yakni Maybank Securities Pte Ltd dan Phillip Securities Pte Ltd, menjadi aktor paling dominan dengan total 33 catatan kepemilikan saham. Angka ini mencakup lebih dari separuh total catatan yang diklasifikasikan sebagai manajer investasi dalam dokumen tersebut.
Maybank Securities Pte Ltd tercatat sebagai manajer investasi dengan portofolio paling terdiversifikasi. Institusi ini memegang saham di 22 emiten berbeda, termasuk di antaranya ABDA (4,91%), VOKS (4,90%), dan BUDI (4,92%). Di posisi kedua, Phillip Securities Pte Ltd mengelola portofolio di 11 saham, dengan kepemilikan signifikan pada MPOW sebesar 44,80% dan STRK sebesar 15,87%.
Selain Singapura, pasar modal Indonesia juga menarik minat manajer investasi dari Hong Kong, Mauritius, dan Amerika Serikat. CGS International Securities Hong Kong Limited dan CGS International Securities Mauritius Ltd mencatatkan kepemilikan pada sejumlah emiten sektor energi dan komoditas, seperti DEWA dan BRMS. Sementara itu, investor Amerika Serikat beroperasi melalui Citibank New York S/A International Finance Corporation serta Citigroup Global Markets Limited.
Meski didominasi pihak asing, sejumlah manajer investasi domestik juga menunjukkan eksistensi di bursa. Beberapa nama yang tercatat memiliki kepemilikan saham di atas 1% meliputi PT Capital Asset Management, PT Pacific Capital Investment, PT Henan Putihrai Asset Management, hingga PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk. Terdapat pula PT Jasa Capital Asset Management, PT Prospera Asset Management, PT Anargya Aset Manajemen, PT Victoria Manajemen Investasi, serta PT Quantum Clovera Investama Tbk yang turut meramaikan daftar tersebut.
Pakar keuangan mencatat bahwa manajer investasi berfungsi sebagai pengelola dana skala besar yang memiliki pengaruh kuat terhadap persepsi pasar. Keputusan mereka dalam menyusun strategi investasi, termasuk pemilihan efek dan pengelolaan risiko, sering kali menjadi indikator bagi pelaku pasar lainnya dalam membaca arah tren investasi institusi.
Penting untuk dicatat bahwa data dari KSEI ini memiliki keterbatasan ruang lingkup. Dokumen tersebut hanya memuat kepemilikan saham yang telah memenuhi ambang batas pelaporan tertentu, yakni di atas 1%. Oleh karena itu, masih terbuka kemungkinan adanya kepemilikan dengan porsi lebih kecil yang tidak tercantum dalam daftar tersebut. Posisi kepemilikan ini bersifat dinamis dan dapat mengalami perubahan sesuai dengan aktivitas transaksi yang terjadi di pasar modal setiap harinya. Kehadiran Singapura sebagai basis utama perusahaan pengelola aset regional ini mempertegas posisi negara tersebut sebagai pusat keuangan strategis di Asia yang memiliki keterkaitan erat dengan pasar modal Indonesia.























