Manajer Investasi Andalkan Valuasi Saham Murah Dongkrak Kinerja Reksadana

Kholida Rahman

Manajer Investasi Andalkan Valuasi Saham Murah Dongkrak Kinerja Reksadana

Jakarta – Kinerja produk reksadana saham di Indonesia menunjukkan tren penguatan yang signifikan sepanjang Juli 2026, dengan sejumlah manajer investasi berhasil mencatatkan imbal hasil (return) yang melampaui capaian Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Data Infovesta mencatat bahwa IHSG mengalami kenaikan sebesar 10,51% secara bulanan (month-on-month) pada periode tersebut, sementara terdapat 91 produk reksadana saham yang mampu mencetak return di atas angka pertumbuhan indeks acuan tersebut.

Kondisi pasar saat ini dinilai berada dalam fase normalisasi setelah mengalami tekanan jual asing yang cukup dalam pada semester pertama tahun 2026. Portfolio Manager Samuel Aset Manajemen, Hernandi Wisnu Wardhana, Jumat (7/8/2026), menyatakan bahwa eksposur investor global terhadap Indonesia yang relatif rendah saat ini justru menjadi peluang. Menurutnya, basis yang rendah tersebut membuat setiap perbaikan sentimen pasar akan memberikan dampak yang signifikan terhadap indeks.

“Setelah koreksi pasar pada semester pertama tahun ini, valuasi pasar saham telah berada pada level yang secara historis terbilang atraktif,” ujar Hernandi.

Strategi pengelolaan portofolio menjadi kunci di balik keberhasilan produk seperti SAM Dana Saham Nusantara Kelas S yang mencatatkan return sebesar 25,38% per Juli 2026. Hernandi menjelaskan bahwa pihaknya menerapkan pendekatan semi-equal weighting untuk membatasi ketergantungan pada segelintir saham berkapitalisasi besar. Selain itu, pemilihan saham dilakukan berdasarkan sensitivitas tinggi terhadap siklus pasar guna menangkap potensi keuntungan saat pasar sedang naik.

Manajer investasi juga menekankan pentingnya disiplin eksekusi dalam manajemen risiko. Saat ini, portofolio SAM Dana Saham Nusantara Kelas S didominasi oleh sektor material dasar (basic materials) dan energi. Sektor-sektor tersebut dipilih karena memiliki likuiditas tinggi di bursa serta didukung oleh harga komoditas yang masih bertahan di level tinggi. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah turut memberikan sentimen positif bagi emiten yang berorientasi pada ekspor.

Di sisi lain, Henan Putihrai Asset Management (HPAM) melalui produk Henan Smart Beta Ekuitas Kelas A turut mencatatkan performa positif dengan return 14,06% pada periode yang sama. Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution HPAM, Reza Fahmi Riawan, mengungkapkan bahwa pihaknya mengombinasikan analisis fundamental dengan pengelolaan portofolio yang fleksibel.

“Dalam kondisi pasar yang masih dipengaruhi oleh dinamika global maupun domestik, kami tetap fokus pada pemilihan saham-saham yang memiliki fundamental yang kuat, valuasi yang menarik, serta prospek pertumbuhan jangka panjang yang baik,” kata Reza.

Pendekatan aktif yang dilakukan HPAM memungkinkan mereka untuk beradaptasi terhadap perubahan siklus ekonomi dengan menyesuaikan komposisi sektor dalam portofolio. Berdasarkan data per 31 Juli 2026, alokasi investasi HPAM tersebar pada sektor material dasar sebesar 28,1% dan sektor keuangan sebesar 25,4%.

Meskipun terdapat optimisme terhadap pasar saham Indonesia, para manajer investasi tetap menekankan bahwa kinerja masa lalu bukan merupakan jaminan bagi hasil di masa depan. Pengelolaan reksadana saham ke depan akan sangat bergantung pada stabilitas makroekonomi, kebijakan moneter yang kondusif, serta konsistensi aliran dana masuk ke pasar domestik. Strategi selektif terhadap emiten dengan potensi pertumbuhan laba berkelanjutan dipandang sebagai cara terbaik untuk menciptakan nilai tambah bagi investor di tengah fluktuasi pasar yang masih mungkin terjadi hingga akhir tahun.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar