Jakarta – PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 27,9% secara tahunan (year-on-year) pada semester I-2026.
Perusahaan berhasil membukukan laba bersih senilai Rp609,45 miliar, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp476,42 miliar.
Pencapaian laba tersebut beriringan dengan pertumbuhan pendapatan perseroan yang menembus angka Rp6,76 triliun.
Realisasi pendapatan ini mencerminkan kenaikan sebesar 10,8% dibandingkan catatan pendapatan pada semester I-2025 yang mencapai Rp6,10 triliun.
Kinerja positif tersebut turut didorong oleh perolehan laba usaha yang tercatat mencapai Rp869,58 miliar hingga akhir Juni 2026.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ester Mulyani menilai kualitas pertumbuhan kinerja SILO pada paruh pertama tahun ini tergolong sangat baik.
Menurutnya, capaian tersebut tidak hanya ditopang oleh peningkatan pendapatan semata, melainkan juga berkat perbaikan efisiensi operasional yang konsisten.
“Kalau dilihat, pertumbuhan SILO ini cukup sehat karena tidak hanya dari sisi top line, tapi juga diikuti peningkatan margin,” ujarnya dikutip dari keterangan resmi, Jumat (7/8/2026).
Ester memaparkan bahwa margin bersih perusahaan mengalami kenaikan dari sekitar 7,8% menjadi 9,0% pada periode berjalan.
Peningkatan kinerja ini dipicu oleh kombinasi kenaikan volume pasien serta optimalisasi pendapatan per pasien atau revenue intensity.
Selain itu, bauran pasien yang lebih mengarah pada segmen korporasi dan swasta memberikan dampak positif bagi fleksibilitas tarif rumah sakit.
“Pasien non-BPJS ini biasanya memberikan fleksibilitas tarif yang lebih baik, sehingga berdampak positif ke profitabilitas perusahaan,” jelas Ester Mulyani.
Memasuki semester II-2026, ia memproyeksikan SILO masih memiliki ruang besar untuk melanjutkan tren pertumbuhan yang ada.
Strategi perusahaan dalam meningkatkan produktivitas rumah sakit yang sudah beroperasi dinilai lebih efektif dibandingkan sekadar ekspansi fisik.
Meski demikian, pihak manajemen tetap menjalankan agenda pembangunan fasilitas baru seperti BIMC Canggu dan Siloam Samarinda.
Proyek-proyek tersebut ditargetkan rampung pada kuartal III-2026 untuk memperkuat kapasitas jangka menengah perusahaan.
Pengembangan layanan kesehatan dengan kompleksitas tinggi, seperti onkologi dan kardiologi, menjadi katalis penting bagi pendapatan perusahaan ke depan.
Adopsi teknologi medis mutakhir seperti robotic surgery dan kecerdasan buatan (AI) juga menjadi kunci dalam menjaga daya saing SILO.
Namun, Ester Mulyani memberikan catatan mengenai beberapa risiko yang perlu diwaspadai oleh investor.
Risiko tersebut meliputi kenaikan biaya tenaga medis, fluktuasi harga obat-obatan, serta potensi perubahan kebijakan tarif BPJS.
“Jadi memang pertumbuhan pendapatan perlu diimbangi dengan disiplin biaya supaya margin yang sudah membaik bisa tetap terjaga,” ungkapnya.
Secara teknikal, saham SILO saat ini tengah berada dalam fase bullish reversal setelah berhasil rebound dari area support Rp2.000 hingga Rp2.100.
Harga saham yang berada di kisaran Rp2.340 kini sedang menguji level resistance di angka Rp2.400 hingga Rp2.450.
“Kalau bisa breakout di atas Rp2.450 dengan volume yang kuat, peluang lanjut ke Rp2.500 masih terbuka,” pungkas Ester Mulyani.
Investor disarankan untuk tetap selektif dengan strategi wait and see atau melakukan buy on breakout pada level harga tertentu.





















