Jelang Rebalancing MSCI, Dana Asing Rp 13,36 Triliun Berpotensi Keluar

Ikhwan Setiawan

Jelang Rebalancing MSCI, Dana Asing Rp 13,36 Triliun Berpotensi Keluar

Jakarta – Pasar modal Indonesia diprediksi menghadapi tekanan jual signifikan seiring dengan agenda penyesuaian portofolio indeks MSCI yang akan berlaku efektif pada 31 Agustus 2026.

Estimasi data dari Bloomberg menunjukkan potensi arus keluar dana asing atau outflow dari pasar saham domestik mencapai US$ 753 juta atau sekitar Rp 13,36 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.744 per dolar AS.

Besaran dana tersebut terbagi menjadi US$ 684 juta pada indeks MSCI Standard Cap dan US$ 68 juta pada indeks MSCI Small Cap.

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, mengungkapkan bahwa tekanan jual pada sejumlah saham tertentu akan meningkat tajam menjelang periode efektif rebalancing tersebut.

“Dan kemungkinan memuncak menjelang sesi penutupan 31 Agustus, ketika passive fund harus menyamakan portfolio dengan komposisi MSCI yang baru,” tulis Liza dalam analisisnya, Kamis (27/8), dikutip dari laporan riset Kiwoom Sekuritas.

Berdasarkan analisis tersebut, tekanan terbesar diproyeksikan bakal menimpa saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dengan estimasi outflow sebesar US$ 407 juta.

Sementara itu, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) diperkirakan mengalami outflow sebesar US$ 177 juta akibat keputusan keluar dari indeks Standard Cap.

Namun, posisi CPIN yang masuk ke dalam indeks Small Cap diprediksi mampu menarik arus masuk atau inflow sebesar US$ 50 juta, sehingga proyeksi net outflow bersih untuk saham ini berada di kisaran US$ 127 juta.

Liza menambahkan bahwa saham-saham yang terdepak dari indeks Small Cap juga menghadapi risiko tekanan harga yang cukup tajam.

Dampak negatif tersebut dinilai lebih terasa pada saham dengan likuiditas rendah, terutama jika estimasi arus keluar melampaui rata-rata nilai transaksi harian.

Beberapa emiten yang disoroti dalam kategori ini meliputi PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), dan PT Bukalapak.com Tbk (BUKA).

“Namun tidak seluruh penjualan baru akan muncul pada 31 Agustus, karna sebagian fund manager & index-arbitrage investors kemungkinan sudah mulai menyesuaikan posisi sejak hasil review diumumkan,” ujar Liza, Jumat (28/8).

Di sisi lain, mekanisme rebalancing ini justru berpotensi memicu rotasi portofolio yang menguntungkan bagi saham-saham berkapitalisasi besar lainnya.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) diperkirakan akan menerima tambahan passive inflow seiring dengan kenaikan bobot relatif keduanya dalam indeks Standard Cap.

Secara keseluruhan, Liza menekankan bahwa aksi jual tidak akan terjadi secara merata di seluruh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), melainkan terkonsentrasi pada emiten-emiten yang terdampak langsung oleh penyesuaian indeks.

“Setelah technical overhang selesai, pergerakannya akan kembali ditentukan oleh fundamental, valuasi & prospek bisnis masing-masing,” ucap Liza.

Adapun pada perdagangan Kamis (27/8), pasar mencatat net foreign sell sebesar Rp 113,45 miliar, yang berasal dari total foreign buy Rp 3,37 triliun dan foreign sell Rp 3,48 triliun.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar