Jakarta – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara kini memposisikan industri petrokimia sebagai sektor strategis nasional guna memperkuat kemandirian industri dalam negeri.
Langkah ini terlihat dari keterlibatan aktif Danantara bersama Indonesia Investment Authority (INA) dalam membiayai pengembangan pabrik Chlor Alkali – Ethylene Dichloride (CA-EDC) milik PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
Investasi yang dikucurkan mencapai US$ 200 juta dengan target operasional pabrik pada tahun 2027 mendatang.
Selain itu, dinamika sektor ini semakin menarik perhatian pasar menyusul rencana Lotte Chemical Corp. Ltd. untuk mendivestasikan sebagian saham Lotte Chemical Indonesia (LCI) kepada Danantara.
Rencana divestasi tersebut merupakan bagian dari upaya restrukturisasi bisnis Lotte Chemical yang memiliki keterkaitan erat dengan PT Lotte Chemical Titan Tbk (FPNI).
Sentimen positif terkait aksi korporasi tersebut tercermin pada pergerakan harga saham FPNI yang mencatatkan kenaikan 10,53 persen dalam lima hari perdagangan terakhir hingga Kamis (27/8/2026).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai keterlibatan Danantara akan memberikan dampak signifikan bagi ekosistem petrokimia Indonesia dalam jangka menengah hingga panjang.
“Keterlibatan Danantara merupakan sinyal positif bagi ekosistem petrokimia Indonesia dalam jangka menengah dan panjang, karena menunjukkan bahwa sektor ini dipandang strategis untuk memperkuat industri nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor,” ungkap Nafan, dikutip dari keterangan resmi, Kamis (27/8/2026).
Menurutnya, kehadiran investor strategis seperti Danantara dan INA dapat memperkuat struktur permodalan sekaligus meningkatkan kredibilitas proyek bagi emiten seperti TPIA.
Namun, ia mengingatkan para investor agar tetap bersikap rasional dalam memilah informasi pasar.
“Namun, investor perlu membedakan antara sentimen berbasis rumor dan manfaat fundamental yang sudah terealisasi,” ujar Nafan, dikutip Kamis (27/8/2026).
Di sisi lain, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyoroti pentingnya efisiensi biaya di tengah tantangan global seperti volatilitas harga minyak dunia dan ancaman praktik dumping produk petrokimia dari China.
Wafi menekankan bahwa kebijakan pemerintah untuk membebaskan bea impor LPG selama enam bulan menjadi angin segar bagi efisiensi produksi emiten.
“Emiten-emiten produsen petrokimia perlu memaksimalkan kebijakan bebas bea impor LPG yang berlaku selama 6 bulan. Kebijakan ini diyakini dapat menekan biaya impor bahan baku dan meningkatkan efisiensi produksi,” jelas Wafi, dikutip Kamis (27/8/2026).
Ia menambahkan bahwa perlindungan melalui kebijakan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) tetap menjadi instrumen krusial bagi pemerintah untuk menjaga daya saing produsen lokal di pasar domestik.
Wafi merekomendasikan investor untuk menahan posisi (hold) pada saham BRPT dengan target harga Rp 1.400 per saham.
Sementara itu, Nafan Aji Gusta memberikan rekomendasi akumulasi (add) untuk saham BRPT dan TPIA dengan target harga masing-masing di level Rp 2.630 dan Rp 2.940 per saham.
Kinerja emiten petrokimia pada semester II-2026 diprediksi akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan dalam mengendalikan biaya operasional serta optimalisasi utilisasi kapasitas produksi.


















