Eskalasi AS-Iran Memanas, Harga Minyak Mentah Dunia Kembali Melonjak

Rayhan Akhari

Eskalasi AS-Iran Memanas, Harga Minyak Mentah Dunia Kembali Melonjak

Jakarta – Eskalasi ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu lonjakan harga minyak mentah dunia pada perdagangan Senin (31/8/2026).

Data Trading Economics menunjukkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bertengger di level US$ 85,90 per barel pada pukul 12.33 WIB.

Angka tersebut mencatatkan kenaikan harian sebesar 3% dan penguatan kumulatif mencapai 5,94% dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

Kondisi geopolitik yang memanas ini menjadi faktor utama yang mendorong harga minyak bertahan di atas level psikologis US$ 80 per barel.

Research and Development ICDX, Girta Putra Yoga, menyatakan bahwa pasar merespons negatif kembalinya konfrontasi langsung antara kedua negara tersebut setelah sempat mereda selama beberapa pekan.

“Situasi itu menandai konfrontasi pertama AS – Iran setelah jeda serangan beberapa minggu, yang sekaligus memicu kekhawatiran akan kembali meningkatkan gangguan di jalur pengiriman utama tersebut,” ujarnya dalam riset tertanggal Senin (31/8/2026).

Ketegangan mencapai titik didih ketika militer Amerika Serikat menyerang peluncur roket milik Iran di Pulau Larak, dekat Selat Hormuz, pada Minggu (30/8/2026).

Sebagai balasan langsung, Korps Garda Revolusi Iran dilaporkan meluncurkan serangan balasan yang menargetkan dua pangkalan militer AS di Yordania.

Dampak dari eskalasi ini mulai terlihat nyata pada aktivitas logistik di perairan vital Timur Tengah.

Berdasarkan data pelacakan kapal Kpler, intensitas lalu lintas kapal di Selat Hormuz merosot tajam menjadi hanya lima kapal per hari selama akhir pekan lalu.

Laporan dari United Kingdom Maritime Trade Operations juga mengonfirmasi adanya serangan terhadap sebuah kapal tanker oleh proyektil tak dikenal di wilayah yang sama.

Insiden tersebut tercatat sebagai serangan ketiga terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz dalam kurun waktu satu pekan terakhir.

Ketidakpastian pasokan diperparah dengan langkah Departemen Keuangan Amerika Serikat yang berencana menerapkan sanksi sekunder baru secara berkala terhadap Iran.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, bahkan telah mendesak negara-negara anggota G20 untuk memutus hubungan ekonomi dengan Iran guna mempersempit ruang gerak pendanaan negara tersebut.

Di sisi lain, Goldman Sachs memproyeksikan volume ekspor minyak mentah yang melalui Selat Hormuz kini berada di kisaran 15 juta hingga 16 juta barel per hari.

Meskipun volume tersebut masih berada di bawah angka sebelum konflik, jumlah ini telah meningkat signifikan dibandingkan titik terendah pada Maret lalu yang hanya mencapai 5 juta hingga 6 juta barel per hari.

Melihat dinamika pasar saat ini, Yoga memprediksi harga minyak mentah WTI akan bergerak dalam rentang teknikal tertentu.

Ia menyebutkan bahwa harga berpotensi menemui level resistance terdekat di angka US$ 88 per barel.

Sementara itu, jika terjadi koreksi pasar, harga diproyeksikan akan menguji level support terdekat pada posisi US$ 83 per barel.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar