Pendapatan Solusi Bangun Indonesia (SMCB) Tumbuh Jadi Rp 5,5 Triliun

Rayhan Akhari

Pendapatan Solusi Bangun Indonesia (SMCB) Tumbuh Jadi Rp 5,5 Triliun

Jakarta – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) mencatatkan kinerja operasional yang solid sepanjang semester I-2026 dengan membukukan volume penjualan sebesar 6,10 juta ton.

Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 6,9% secara tahunan (year on year) dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Pencapaian ini diraih perusahaan di tengah kondisi industri semen nasional yang masih dihadapkan pada tantangan kelebihan kapasitas produksi.

Tekanan persaingan harga akibat kelebihan pasokan tersebut diperparah dengan tingginya beban biaya energi dan logistik.

Pendapatan perusahaan tercatat tumbuh sebesar 10,63% secara tahunan menjadi Rp 5,5 triliun hingga akhir Juni 2026.

Laba kotor perusahaan turut menunjukkan penguatan profitabilitas dengan kenaikan 15,9% menjadi Rp 1,20 triliun.

Manajemen berhasil membukukan laba periode berjalan sebesar Rp 278 miliar, atau naik 4,31% dibandingkan semester I-2025.

Direktur Utama Solusi Bangun Indonesia, Rizki Kresno Edhie Hambali, menyatakan bahwa efisiensi operasi dan pengelolaan keuangan yang disiplin menjadi kunci utama keberhasilan perusahaan.

“SMCB menempatkan penguatan daya saing dan optimalisasi kapasitas sebagai prioritas dalam merespons dinamika industri,” ujar Rizki dalam keterangan resmi, Selasa (1/9/2026).

Strategi perusahaan mencakup perluasan basis pasar melalui diversifikasi ke pasar ekspor guna mengurangi ketergantungan pada pasar domestik.

“Pengembangan pasar ekspor menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang untuk memperluas basis pelanggan, mengurangi ketergantungan pada satu pasar, dan mengoptimalkan kapasitas produksi,” imbuh dia.

Hingga Juni 2026, volume penjualan ekspor SMCB telah mencapai 97.500 metrik ton (MT) khusus untuk pasar Amerika Serikat.

Perusahaan menargetkan total ekspor ke Amerika Serikat dapat menembus angka 450 ribu MT hingga penutupan tahun buku Desember 2026.

Ekspansi ekspor ini didukung melalui kemitraan strategis yang dijalin bersama Taiheiyo Cement Corporation.

Di pasar domestik, perusahaan fokus memperkuat penetrasi di wilayah Jawa Barat yang mencatatkan pertumbuhan permintaan sebesar 7,5% secara tahunan.

SMCB bersama induk usahanya, Semen Indonesia Group, memutuskan untuk menghidupkan kembali merek Semen Kujang.

Langkah reaktivasi ini dilakukan untuk menangkap peluang pasar di Jawa Barat dengan memanfaatkan sejarah panjang merek tersebut.

“Kami percaya kombinasi antara ekuitas merek yang kuat, pemahaman terhadap karakter pasar lokal, dan kapabilitas perusahaan dapat memperkuat daya saing kami di Jawa Barat sekaligus menciptakan nilai yang lebih besar bagi konsumen dan bisnis,” tutur Rizki.

Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI) sebelumnya mencatat bahwa permintaan semen nasional didorong oleh percepatan belanja pemerintah.

Namun, pemulihan permintaan secara nasional masih belum merata akibat daya beli masyarakat yang relatif lemah.

Sektor properti juga dinilai belum memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan pasar semen secara keseluruhan hingga pertengahan tahun ini.

Ke depan, perusahaan berkomitmen untuk melanjutkan strategi pertumbuhan terukur dengan memanfaatkan realisasi proyek infrastruktur pemerintah di semester II-2026.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar