Jakarta – Nilai tukar rupiah menunjukkan tren pemulihan yang signifikan sepanjang Agustus 2026 terhadap mayoritas mata uang utama dunia.
Data Bloomberg mencatat mata uang Garuda berhasil menguat terhadap tujuh dari delapan mata uang utama secara bulanan.
Apresiasi paling tajam terjadi pada pasangan mata uang franc Swiss (CHF/IDR) dengan koreksi sebesar 5,89%.
Dolar Amerika Serikat (USD/IDR) juga mencatatkan pelemahan sebesar 1,86% ke level Rp 17.722 pada akhir Agustus.
Mata uang lain seperti yen Jepang, poundsterling Inggris, dan euro turut mengalami depresiasi masing-masing sebesar 1,39%, 0,97%, dan 0,94%.
Dolar Singapura dan dolar Kanada juga melemah terhadap rupiah, sementara dolar Australia menjadi satu-satunya mata uang yang masih menguat tipis sebesar 0,09%.
Kendati mencatatkan kinerja positif bulanan, posisi rupiah secara akumulatif sejak awal tahun (Year-to-Date/YtD) masih berada dalam tekanan.
Dolar Australia memimpin penguatan terhadap rupiah sebesar 12,83% YtD, disusul dolar Singapura sebesar 7,39% dan poundsterling sebesar 7,13%.
Analis Mata Uang dan Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menjelaskan bahwa penguatan rupiah pada Agustus didorong oleh pelemahan indeks dolar AS (DXY).
“Penguatan rupiah pada Agustus ditopang oleh pelemahan menyeluruh indeks dolar AS (DXY) akibat intervensi likuiditas buyback US Treasury dan melandainya imbal hasil obligasi AS,” ujar Wahyu, sebagaimana dikutip dari Traderindo.com, Selasa (1/9/2026).
Selain itu, efektivitas instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) turut memberikan ruang bagi mata uang domestik untuk menguat.
Namun, Wahyu menyoroti sentimen negatif dari pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang memicu lonjakan imbal hasil obligasi AS.
“Sinyal hawkish yang sangat kuat dari pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole, yang dinilai sebagai salah satu komunikasi paling ketat dalam dua dekade, memicu lonjakan yield US Treasury tenor dua tahun dan mengerek kembali Indeks Dolar AS (DXY),” ungkap Wahyu.
Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan, menambahkan bahwa faktor eksternal seperti eskalasi konflik di Timur Tengah turut membebani rupiah secara YtD.
“Kenaikan minyak menjadi penting karena juga memperkuat posisi USD sebagai mata uang utama dalam transaksi energi global atau petrodollar,” jelas Brahmantya, dikutip dari keterangan resmi, Selasa (1/9/2026).
Sebagai negara net importir minyak, Indonesia menghadapi risiko inflasi dan kebutuhan valas yang meningkat saat harga energi global melonjak.
Menghadapi dinamika tersebut, pelaku pasar disarankan untuk melakukan diversifikasi portofolio ke aset-aset yang lebih stabil.
Wahyu merekomendasikan mata uang berbasis komoditas dan instrumen defensif seperti yen Jepang untuk memitigasi ketidakpastian moneter global.
Sementara itu, Brahmantya menyarankan investor untuk melirik dolar Singapura dan yuan Tiongkok sebagai pilihan diversifikasi yang lebih terukur.




















