Jakarta – PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan realisasi investasi sebesar Rp 12 triliun hingga semester pertama tahun 2026.
Sebagian besar dana investasi tersebut dialokasikan untuk akuisisi tambang emas Arafura Surya Alam.
Selain investasi strategis, perusahaan juga mencatat belanja modal atau capital expenditure (capex) di kisaran Rp 15 triliun hingga Rp 20 triliun per Juni 2026.
Manajemen Astra menyatakan bahwa langkah ekspansi selanjutnya akan sangat bergantung pada peluang pasar yang tersedia.
“Realisasi investasi selanjutnya akan disesuaikan dengan peluang yang tersedia,” ujar Head of Corporate Investor Relation PT Astra International Tbk, Tira Ardianti, Senin (31/8/2026).
Terkait kinerja keuangan, Astra mencatat rugi perubahan nilai wajar investasi lain-lain sebesar Rp 837 miliar sepanjang semester I 2026.
Tira menegaskan bahwa nilai tersebut dicatat dalam penghasilan komprehensif lain dan tidak memberikan dampak langsung terhadap laba rugi periode berjalan.
Selain itu, terdapat kerugian penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitas grup sebesar Rp 259 miliar.
“Terutama mencerminkan fluktuasi nilai pasar (mark-to-market) atas investasi ekuitas Grup,” tambah Tira Ardianti.
Sejak Mei 2026, Astra telah melakukan tinjauan strategis dengan mempertajam fokus pada tiga pilar bisnis utama.
Ketiga sektor tersebut mencakup otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan dan alat berat.
Perusahaan kini menerapkan pendekatan yang lebih disiplin dalam pengelolaan portofolio serta alokasi modal.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan setiap investasi memiliki keselarasan strategis dan potensi pertumbuhan jangka panjang.
Astra juga membuka opsi untuk melakukan kemitraan strategis guna mendukung bisnis dengan prospek yang menjanjikan.
Keputusan mengenai portofolio bisnis akan diambil berdasarkan evaluasi fundamental, bukan sekadar respons terhadap volatilitas pasar jangka pendek.
“Astra akan tetap fokus pada operational execution melalui operational excellence, menjaga efisiensi dan daya saing, serta mempertahankan disiplin dalam alokasi modal,” ungkap Tira Ardianti.
Di sisi lain, kinerja keuangan Astra sepanjang semester I 2026 menunjukkan adanya tekanan pada laba bersih dan pendapatan.
Laba bersih tercatat sebesar Rp 12,5 triliun, turun 19,22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 15,51 triliun.
Pendapatan perusahaan juga mengalami kontraksi sebesar 3,03% menjadi Rp 157,91 triliun dari sebelumnya Rp 162,85 triliun.
Analis Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, menilai segmen alat berat masih menjadi beban bagi kinerja perusahaan tahun ini.
Namun, Adrian mencatat bahwa segmen bisnis lainnya masih menunjukkan pertumbuhan yang solid.
“Arus kas juga masih stabil dan potensi dividen menarik,” ujar Adrian Djie dikutip pada Senin (1/9/2026).
Melihat kondisi tersebut, Adrian memberikan rekomendasi beli untuk saham ASII dengan target harga di level Rp 6.400 per lembar.
















