Ekspansi Jadi Katalis, Simak Prospek Kinerja Emiten Rumah Sakit

Ikhwan Setiawan

Ekspansi Jadi Katalis, Simak Prospek Kinerja Emiten Rumah Sakit

Jakarta – Sektor kesehatan Indonesia mencatatkan dinamika signifikan pada semester II-2026 yang didorong oleh agresivitas ekspansi jaringan rumah sakit oleh berbagai emiten besar.

Penambahan fasilitas kesehatan baru diproyeksikan menjadi katalis utama dalam mendongkrak pendapatan emiten sepanjang tahun ini.

PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) menjadi salah satu pemain yang mencuri perhatian dengan rencana akuisisi 14 properti rumah sakit senilai Rp 9 triliun dari First REIT.

Langkah serupa dilakukan oleh PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) yang telah merampungkan pembangunan dua rumah sakit baru di Badung, Bali, dan Kepanjen, Malang.

PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) juga terus memperkuat penetrasi pasarnya dengan meresmikan Mayapada Hospital Jakarta Timur sebagai unit kedelapan perusahaan.

Tidak ketinggalan, PT Bundamedik Tbk (BMHS) melakukan ekspansi pada RSU Bunda Padang sekaligus mengintegrasikan teknologi bedah robotik pertama di wilayah Sumatra Barat.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menyatakan bahwa ekspansi ini akan memacu pertumbuhan pendapatan secara konsisten pada semester II-2026.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dampak positif terhadap laba bersih akan terasa secara bertahap bagi para emiten tersebut.

“Ekspansi keempat emiten akan menjadi katalis pertumbuhan pendapatan pada semester II-2026, tetapi dampaknya terhadap laba akan bertahap,” ujar Azis, Rabu (2/9/2026).

Menurut analisisnya, fasilitas kesehatan baru memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga tahun untuk mencapai tingkat utilisasi atau okupansi yang optimal.

Durasi tersebut sangat bergantung pada berbagai faktor teknis seperti lokasi rumah sakit, ketersediaan tenaga dokter, layanan unggulan, hingga efektivitas jaringan rujukan.

Investor diimbau untuk mencermati tekanan jangka pendek terhadap profitabilitas akibat beban depresiasi dan biaya operasional tambahan.

Biaya rekrutmen tenaga medis serta pengeluaran pemasaran juga menjadi komponen yang perlu diperhatikan sebelum fasilitas baru tersebut mencapai skala ekonomis.

Di sisi lain, optimisme terhadap sektor ini masih cukup tinggi berdasarkan data kinerja kuartal II-2026.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Wilastita Muthia Sofi, dalam risetnya memperkirakan laba bersih sektor rumah sakit tumbuh 19% secara tahunan berkat volume pasien yang tetap kuat.

Peningkatan volume pasien tercatat sebesar 3% secara kuartalan dan 5% secara tahunan yang didukung oleh jumlah hari kerja yang lebih banyak.

Hingga pertengahan tahun, realisasi laba bersih emiten seperti MIKA, HEAL, dan SILO dinilai sudah berada di jalur yang tepat, yakni mencapai kisaran 45% hingga 47% dari estimasi target tahunan.

Fokus utama emiten saat ini tidak hanya pada penambahan fisik, tetapi juga peningkatan produktivitas layanan.

MIKA dilaporkan berfokus pada layanan kompleksitas tinggi, sementara SILO mengoptimalkan program Rumah Sakit Masa Depan dan penambahan dokter spesialis.

HEAL sendiri terus memperluas jangkauan melalui kemitraan strategis dan inovasi model pengelolaan rumah sakit.

BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan peringkat overweight untuk sektor rumah sakit karena prospek laba yang kuat.

Valuasi saham di sektor ini dinilai masih menarik, bahkan cenderung rendah dibandingkan rata-rata historis selama lima tahun terakhir.

MIKA menjadi pilihan utama karena profil laba yang solid dengan Return on Equity (ROE) mencapai 19%.

Sementara itu, untuk perdagangan jangka pendek, Azis menyarankan untuk mengakumulasi saham HEAL dengan target harga di kisaran Rp750 hingga Rp780 per lembar saham.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar