Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Kamis (3/9/2026) dengan tren positif.
Berdasarkan data RTI pukul 09.14 WIB, indeks mencatatkan kenaikan sebesar 0,53% atau 34,913 poin menuju level 6.630,689.
Sentimen positif ini tercermin dari dominasi saham yang menguat sebanyak 338 emiten.
Sebaliknya, terdapat 185 saham yang mengalami tekanan jual dan 189 saham lainnya bergerak stagnan.
Aktivitas perdagangan domestik terpantau cukup aktif dengan total volume mencapai 5,5 miliar saham.
Nilai transaksi yang dibukukan pasar modal Indonesia hingga pagi ini telah menyentuh angka Rp 2 triliun.
Penguatan IHSG didorong oleh kinerja positif dari 10 indeks sektoral yang melantai di Bursa Efek Indonesia.
Sektor IDX-Trans memimpin penguatan dengan kenaikan 1,84%.
Disusul oleh sektor IDX-Energy yang mencatatkan apresiasi sebesar 1,32%.
Sektor IDX-Basic juga turut memberikan kontribusi dengan kenaikan sebesar 1,20%.
Dalam jajaran saham LQ45, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) memimpin daftar saham dengan kenaikan harga tertinggi (top gainer).
Saham HRTA melonjak 4,04% ke level Rp 2.320 per lembar saham.
Selain itu, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menguat 3,68% menjadi Rp 2.820.
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) melengkapi deretan penguatan dengan kenaikan 3,29% ke level Rp 11.000.
Di sisi lain, tekanan jual menghinggapi saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) yang turun 2,80% ke posisi Rp 695.
Saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) juga melemah 0,68% ke level Rp 7.325.
Demikian pula dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang terkoreksi 0,37% ke harga Rp 6.650.
Pergerakan IHSG ini selaras dengan tren positif yang terjadi di pasar saham dan obligasi Asia pada Kamis ini.
Investor saat ini tengah memusatkan perhatian pada rilis data ekonomi Amerika Serikat serta komentar pejabat bank sentral terkait kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Pasar global menanti laporan tenaga kerja AS atau nonfarm payrolls (NFP) yang dijadwalkan rilis pada Jumat (4/9/2026).
Data NFP dipandang sebagai indikator krusial bagi The Fed untuk menentukan arah kebijakan moneter ke depan.
Terkait dinamika geopolitik, Gavin Friend selaku senior markets strategist di NAB mengungkapkan pandangannya.
“Jika perang ini dapat diakhiri, hal itu tentu akan menjadi sesuatu yang sangat positif untuk membawa imbal hasil turun secara keseluruhan,” ujar Friend dalam sebuah podcast yang dikutip NAB (3/9/2026).
Menurutnya, berakhirnya konflik akan meredakan tekanan pasar dan membantu bank sentral kembali fokus pada kebijakan moneter normal.
Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang tercatat naik 0,5% mengikuti sentimen positif dari pasar saham AS.
Sementara itu, di pasar valuta asing, indeks dolar AS mengalami pelemahan tipis sebesar 0,05% ke level 99,54.
Yen Jepang terpantau menguat 0,07% menjadi 158,59 terhadap dolar AS.
Penurunan imbal hasil US Treasury juga memberikan napas lega bagi pasar setelah kekhawatiran mengenai pengetatan kebijakan moneter sempat membayangi biaya pinjaman global.






















