Laba J Resources (PSAB) Melonjak, Investor Diminta Waspadai Keuntungan One-off

Rayhan Akhari

Laba J Resources (PSAB) Melonjak, Investor Diminta Waspadai Keuntungan One-off

Jakarta – PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) mencatatkan lonjakan laba bersih yang signifikan sebesar 803% pada semester I-2026.

Laba bersih perusahaan tercatat mencapai US$ 177,89 juta dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yakni US$ 19,69 juta.

Data tersebut merujuk pada laporan keuangan yang dirilis perusahaan dalam keterbukaan informasi, Selasa (1/9/2026).

Di sisi lain, pendapatan perusahaan atau top line tumbuh lebih moderat sebesar 14,5% secara tahunan.

Penjualan PSAB naik menjadi US$ 160,64 juta dari angka sebelumnya sebesar US$ 140,30 juta pada semester I-2025.

Perbedaan tajam antara pertumbuhan laba dan pendapatan ini menjadi sorotan para analis pasar.

Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai lonjakan laba tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kinerja operasional murni.

Adanya keuntungan non-recurring dari transaksi divestasi aset tambang Doup menjadi faktor utama yang mendongkrak laba bersih perusahaan.

“Artinya, secara fundamental bisnis inti PSAB memang mengalami perbaikan, tetapi lonjakan laba hingga ratusan persen tidak bisa seluruhnya dianggap sebagai pertumbuhan laba yang berulang,” ujar Hendra, Rabu (2/9/2026).

Hendra menambahkan bahwa investor perlu membedakan antara laba hasil aksi korporasi dengan laba yang berasal dari aktivitas pertambangan emas.

Menurutnya, indikator yang lebih krusial untuk mengukur keberlanjutan perusahaan adalah volume produksi, harga jual emas, serta arus kas operasional.

Senada dengan hal tersebut, Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, memberikan pandangan serupa mengenai kualitas laba PSAB.

Ia menegaskan bahwa pertumbuhan laba pada semester II-2026 kemungkinan akan kembali ke level normal karena keuntungan divestasi tidak akan berulang.

“Faktor pendukung utamanya adalah harga emas yang masih berada pada level tinggi, sehingga tetap memberikan ruang bagi margin operasi apabila produksi dan biaya tambang dapat dijaga,” kata Elandry dikutip dari pernyataan resminya, Kamis (3/9/2026).

Elandry juga mengingatkan investor agar tidak menggunakan angka pertumbuhan 803% tersebut sebagai acuan utama dalam menilai prospek perusahaan ke depan.

Fokus pasar saat ini dianjurkan untuk beralih pada efisiensi produksi dan kemampuan perusahaan dalam menekan biaya operasional.

Meski demikian, prospek PSAB dinilai masih memiliki daya tarik karena harga emas global yang tetap tinggi di tengah ketidakpastian geopolitik.

Harga emas yang bertahan di level tinggi menjadi katalis positif bagi margin perusahaan selama volume produksi tetap stabil.

Namun, perusahaan masih dihadapkan pada sejumlah tantangan risiko, termasuk volatilitas harga komoditas global dan potensi kenaikan biaya operasional.

Hendra Wardana melihat saham PSAB masih cukup menarik untuk strategi trading buy atau speculative buy dengan target harga di level Rp660 per saham.

Namun, ia menyarankan agar investor berhati-hati dan tidak mengejar harga saat terjadi kenaikan yang terlalu tajam di pasar.

Secara keseluruhan, penguatan neraca keuangan pasca divestasi memberikan fleksibilitas bagi PSAB dalam mengembangkan aset pertambangan di sisa tahun 2026.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar