Jakarta – Pergerakan imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) di pasar domestik diprediksi tidak akan bergantung tunggal pada kebijakan Amerika Serikat.
Stabilitas fiskal dalam negeri disebut menjadi faktor penentu utama yang akan menggerakkan arah yield SBN ke depan.
Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menyatakan bahwa efektivitas kebijakan fiskal pemerintah Indonesia memegang peranan krusial.
“Kinerja SBN selanjutnya akan ditentukan beberapa faktor, utamanya adalah kondisi postur fiskal kita apakah produktif atau tidak,” ujar Riefky, Rabu (9/9/2026).
Pernyataan ini muncul di tengah rencana pemerintah AS melakukan buyback obligasi US Treasury tenor panjang mulai 9 September hingga 4 November 2026.
Operasi buyback tersebut ditargetkan mencapai nilai minimal US$ 4 miliar per operasi untuk tenor 10 hingga 30 tahun.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa langkah AS ini bertujuan memperbaiki likuiditas pasar dan menekan biaya pinjaman jangka panjang.
Kebijakan tersebut menurutnya bukan merupakan bagian dari pelonggaran moneter oleh bank sentral AS.
“Pembelian kembali obligasi AS sebagai penahan kenaikan imbal hasil SBN, bukan katalis yang sendirian mampu membawa SBN 10 tahun turun secara permanen ke bawah 7%,” jelas Josua.
Meski demikian, Josua mengakui bahwa kebijakan AS tetap memberikan sentimen positif bagi pasar Indonesia.
Penurunan yield obligasi AS dapat meningkatkan daya tarik selisih imbal hasil SBN bagi investor asing.
Kondisi ini berpotensi meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan menarik arus modal masuk.
Namun, kinerja SBN ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh lima kelompok sentimen utama.
Faktor eksternal pertama adalah arah kebijakan suku bunga bank sentral AS yang diproyeksikan bertahan di level 3,75% hingga akhir tahun.
Faktor kedua mencakup fluktuasi harga minyak dunia dan eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Risiko harga minyak dapat berdampak sistemik pada inflasi, transaksi berjalan, hingga fiskal Indonesia.
Tercatat defisit transaksi berjalan Indonesia pada triwulan II telah melebar ke posisi 3,34% terhadap PDB.
Faktor ketiga adalah pergerakan nilai tukar rupiah dan dinamika arus modal asing.
Keempat, kondisi fiskal domestik dan proyeksi pasokan SBN pada tahun 2027 menjadi perhatian pasar.
Kebutuhan penerbitan bruto SBN tahun depan diperkirakan mencapai Rp 1.495 triliun untuk menutupi jatuh tempo sebesar Rp 715 triliun.
Kelima, disiplin RAPBN 2027, peringkat utang, serta kebijakan pembelian SBN oleh Bank Indonesia akan menjadi penentu berkelanjutan.
Jika yield obligasi AS tenor 10 tahun konsisten di bawah 4,5% dan faktor domestik terjaga, yield SBN 10 tahun diprediksi berada di kisaran 6,95% hingga 7,15% pada akhir 2026.























