Jakarta – Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan penguatan di pasar global seiring dengan ketegangan geopolitik yang memuncak di kawasan Timur Tengah.
Patokan harga minyak Brent tercatat berada di level US$ 97,03 per barel pada Selasa (8/9/2026) pukul 09.26 waktu Singapura.
Di saat yang sama, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan hingga menyentuh angka US$ 92,43 per barel.
Lonjakan harga ini dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang menghubungkan produsen minyak di Teluk Persia dengan pasar global.
Secara historis, jalur perairan tersebut menjadi lintasan bagi seperlima pasokan migas dunia dalam kondisi normal.
Saat ini, Iran dan Oman dikabarkan tengah mengupayakan kesepakatan pengaturan pengelolaan Selat Hormuz melalui skema biaya transit.
Rencana tersebut memicu gesekan diplomatik dengan Amerika Serikat yang bersikeras agar jalur tersebut tetap menjadi perairan bebas.
Pihak Iran menyatakan bahwa kesepakatan terkait rute pelayanan aman sementara akan segera tercapai dalam waktu dekat.
Ketidakpastian ini diperparah dengan eskalasi pertempuran antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali terjadi dalam sepekan terakhir.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap arus pasokan energi yang melintasi kawasan strategis itu.
Analis Goldman Sachs Group Inc., termasuk Daan Struyven, menilai pasar saat ini mulai mengantisipasi dampak jangka panjang dari krisis tersebut.
“Pasar semakin memperhitungkan kemungkinan konflik Timur Tengah berlangsung berkepanjangan,” tulis catatan analis tersebut dikutip dari Bloomberg, Selasa (8/9/2026).
Goldman Sachs bahkan merevisi naik proyeksi harga minyak dengan asumsi gangguan pelayaran akan berlanjut hingga tahun 2027.
Sejak konflik dimulai enam bulan lalu, harga Brent tercatat telah mengalami kenaikan lebih dari 30 persen.
Meskipun demikian, harga saat ini masih berada di bawah rekor tertinggi yang sempat menembus US$ 126 per barel pada akhir April.
Harga produk olahan seperti diesel mengalami kenaikan lebih tajam akibat pengetatan pasokan yang dipicu oleh perang Rusia-Ukraina.
Data dari Macquarie Group Ltd menunjukkan bahwa volume minyak yang melintasi Selat Hormuz saat ini mencapai sekitar 7 juta barel per hari.
Volume tersebut mengalami penurunan signifikan dibandingkan angka sebelum perang yang mencapai 20 juta barel per hari.
Di sisi lain, kilang minyak di Cina terpantau meningkatkan pembelian minyak dari Afrika, Kanada, dan Amerika Latin.
Peningkatan permintaan ini dinilai belum menjadi indikator pemulihan permintaan energi secara menyeluruh dalam jangka panjang.
Pejabat Amerika Serikat menegaskan bahwa ekspor minyak dari kawasan tersebut tetap berjalan kuat meski berada di tengah tekanan konflik.




















